Sebuah refleksi dari desakan gerutu jiwa yang ingin mengaspirasikan suaranya yang tertahan dalam sebuah ide tanpa pintu keluar.
Sabtu, 14 November 2009
cerpen: TANGAN LEMAH
“Sepi!,” Seruku dalam hati.
Dengan gerak cepar aku mengambil beberapa pasang dari alas kaki yang kuincar tersebut. Ya, aku mencurinya dan hasil curian itu akan kujual ke tukang loak yang biasa menerima barang hasil curianku. Entah karena aksian ataukah karena Si Tukang Loak itu butuh pada sandal dan sepatu yang kujual padanya, ia selalu menerima barang yang kujual meski di lapaknya masih menumpuk begitu banyak sandal dan sepatu dariku. Yang pasti, aku sangat berterima kasih padanya. Karena berkat dia, aku tetap bisa memberi makan kedua adikku setiap hari.
“Mang, ni ada barang lagi. Mau beli tidak?” Tawarku pada Mang Itong, tukang loang menerina hasil curianku.
“Ada berapa?”
“Empat pasang.”
Mang itong memeriksa Sandal dan sepatu dariku dengan seksama, kemudian berkata,”Sepuluh ribu ya?”
“Yah, tambah lagi lah!” Pintaku memelas.
“Ya sudah lima belas ribu.”
“Baiklah. Terima kasih ya, Mang!”
Aku pergi meninggalkan lapak Mang Itong, kemudian pergi ke pasar untuk membeli tempe dan seliter beras. Kugenggam erat uang dari Mang Itong. Hatiku pili bila mengingat uang itu hasil curian. Aku tak sampai hati memberi makan adik-adikku dengan cara yang tak halal. Namun, apalah daya. Aku hanya seorang pemuda yatim-piyatu yang menanggung beban beran di punggungnya dari adik-aduknya yang masih kecil-kecil, namun tak ada keahlian mencari uang. Maka, kujalani hidup sebagai pencuri kelas kacang tanah.
***
Aku tersenyum bercampur haru melihat adik-adikku makan dengan lahap. Aku tak habis piker betapa kelaparannya mereka sehingga piring yang telah kosong dari nasi dan lauk masih juga mereka jilati.
“Min, sudahlah, jangan kamu jilati juga piring yang sudah kosng itu!” Kataku pada Amin adik pertamaku.
“Kenapa, Kang?” Tanya Amin.
“Kamu jangan mengajari adikmu bertingkah seperti kucing denganmenjilati piring sisa makanan itu! Lihatlah Ari! Dia mengikuti tingkahmu.”
“Tapi aku masih lapar, Kang.”
“Kakang tahu. Tapi, hanya itu yang bias kakang berikan pada kalian. Kakang tidak bisa memberi lebih dari ini. Inilah kemampuan kakang.”
Kulihat Amin meringis. Hatiku bertambah pilu. Sejak pagi Amin dan Ari tak menyentuh nasi dan baru makan di malam hari. Itupun tak sampai membuat mereka kenyang. Tak terasa air mata mengalir dari pelupuk mataku yang lemah.
“Sudahlah, jangan meringis seperti itu!”
“Memangnya kenapa?”
“Kalau kamu bersikap seperti itu, seolah-olah kamu tidak bersyukur akan nikmat yang Allah berikan malam ini. Kamu lihat Ari! Dia masih bisa bersyukur dengan memejamkan matanya dan membawa dirinya ke dalam mimpi.”
“Ya sudah, aku tidur.”
Amin beranjak tidur. Akupun merasakan kantuk menerpa diriku hingga aku tak sempat mengikuti malam hingga usai.
***
Sekitar pukul sepuluh pagi, aku sudah bertengger di depan WARNET depan Jalan Raya Serang, tempatku biasa beroperasi. Celingak-selinguk lalu mematuk. Beberapa sepatu kurangkul, namun naas, aku kena pukul. Salah seorang pengunjung WARNET kebetulan keluar dan mendapati aku hendak mencuru sepatunya.
Aksi pemukulan salah seorang pengunjung WARNET itu memancing pengunjung lain keluar dan ikut memukuliku. Hantaman bogem mentah mendarat di wajahku, tendangan menyakitkan disematkan di dada dan perutku. Aku tak bisa mengelak.
“Ampun! Ampun!” Rengekku.
Setelah aku lemah dan merengek kesakitan, barulah mereka menghentikan pemukulannya. Aku yang terbaring lemah mereka dudukkan, kemudian diberi segelas air putih. Lebih dari lima pasang mata menatapku tajam, tak terkecuali pemilik WARNET yang takut omzetnya menurutn jika selalu terjadi pencurian alas kaki di WARNET-nya.
“Kenapa kamu selalu mencuri sandal di WARNET-ku?” Tanya pemilik WARNET padaku.
“Aku terpaksa.”
“Kenapa?”
“Aku butuh uang untuk makan adik-adikku. Kami yatim piyatu.”
“Lalu kenapa kau lakukan hal sehina ini? Tegakah kau memebri makan adik-adikmu dengancara yang yak halal?”
“Sebenarnya perih rasanya”
“Lalu kenapa kau lakukan juga?”
Aku diam, seorang dari mereka menamparku, yang lain menggeretaknya agar tak mengulangi.
“Bawa ke polisi saja!” Seru orang yang menamparku.
“Ampun! Janganbawa aku ke polisi!” Rengekku.
“Kau tidak akan kami bawa ke polisi. Kasihan adik-adikmu jika kau kami bawa ke bui.” Jawab pemilik WARNET.
Aku tersenyum dan berterima kasih pada mereka yang telah mengampuniku. Namun dengan syarat bahwa aku tak boleh lagi mencuri di WARNET tersebut.
***
Aku memutuskan untuk berjualan Koran. Bergulat dengan matahari, aku menjajakan Koran di lampu merah. Peluh tak henti-hentinya mengucur dari pori-poriku. Dalam hati aku bertekad, “Korannya harus habis!”
Ya, korannya habis jam tiga sore. Aku pulang dengan senyum sumringa ke rumah. Namun, senyum tersebut seketika hilang setelah melihat Ari kejang-kejang. Sesuatu terjadi pada Ari.
“Kenapa Ari, Min?”
“Tidak tahu. Badannya panas sekali.”
“Sudah kamu kompres?”
“Sduah tapi panasnya tak mau turun.”
“Kita bawa ke rumah sakit!”
“Tapi, Kang…”
“Sudahlah! Kakang tidak mau terlambat.”
Tanpa berpikir panjang aku beserta Amin membawa Ari ke rumah sakit. Ari langsung dibawa ke UGD. Namun, pihak rumah sakit tak mau memberikan perawatan inap pada Ari karena aku tak mampu membayar. Kartu JAMKESMAS hanya bisa meringankan biaya, bukan menggratiskan biaya.
Alasan itu berulang kali diucapkan dari mulut pihak administrasi dan dokter rumah sakit milik pemerintah tersebut.
“Toling, Dok! Kashan adik saya.” Pintaku.
“Kami belum bisa melakukan perawatan kalau anda belum melunasi administrasinya.” Jawab doketer.
“Rumah sakit macam apa ini? Bukankah jika mempunyai kartu JAMKESMAS akan mendapatkan perawatan gratis?”
“Tidak, Pak. Kartu tersebut hanya untuk meringankan biaya.”
“Tega kalian!”
Kudorong dokter hingga terjatuh, kemudian aku berkata, “Harusnya kau berseragam hitam saja, bukan putih!”
Aku berlari meninggalkan rumah sakit, pulang ke rumah, kemudian pergi menuju toko emas di pasar. Bermodalkan golok yang kuambil dari rumah aku menodong pemilik toko emas tersebut agar menyerahkan uangnya kepadaku.
“Serahkan seluruh uangmu!” Geretakku.
“Baik-baik.” Jawab penilik toko emas dengan ketakutan yang kemudian menyerahkan sejumlah uang bernilai lebih dari satu juta kepadaku. Uang tersebut langsung kubungkus dengan sarung dan pergi sambil terus mengacungkan golok agar tak disergap warga di pasar.
Aku berlari menuju rumah sakit. Lebih dari sepuluh orang di pasar mengejarku. Aku terus berlari, berlari dan berlari. Beberapa kali aku hamper tertangkap oleh mereka, tapi aku gesit meloloskan diri. Hingga akhirnya aku sampai di rumah sakit, namun mereka masih mengejarku.
Lorong-lorong di rumah sakit jadi lintasan pelarianku. Aku berlari menuju tempat administrasi. Setelah sampai, aku langsung menyerahkan uang yang harus dibayar kepada rumah sakit.
“Maaf, Pak! Adik anda tidak tertolong. Kamu juga mendapati adik anda yang lain tergantung di lorong samping kamar jenazah.”
Mendengar keterangan dari pihak anmidistrasi aku jadi geram. Aku tak habis pikir, rumah sakit milik pemerintah bisa sekejam ini pada rakyatnya jika dipegang oleh dokter yang tak berhati. Kuobrak-abrik tempat adminirtrasi hingga bagai puing-puing pesawat yang meledak. Namun, beberapa saat kemudian, orang-orang dari pasar menemukanku dengan ditemani SATPAM rumah sakit yang kemudian menghajarku hingga babak belur. SATPAM rumah sakit berusaha menghentikan mereka, namun tak berhasil. Mereja baru berhenti setelah aku berbentuk seperti adonan roti yang diberi pewarna merah.
***
Setelah mendapat siksaan berat, aku dijebloskan ke bui. Aku terkurung dalam rangkar beri, berselimut duka atas kematian kedua adikku yang mengenaskan. Namun, di tempat ini aku tak pernah kehilangan nasi.
-SELESAI-
Rabu, 11 November 2009
cerpen: TANPA CAHAYA
Kuseruput teh hangat dengan hati-hati. Manis teh yang mendarat di karpet rasaku berbanding terbalik dengan kenyataan yang aku alami. Kenyataan pahit yang harus aku telan karena ulahku sendiri.
***
Setahun lalu, aku sempat menjadi orang paling ditakuti di sekolah. Hapir semua murid tak bernyali bila berhadapan denganku. Laki-laki maupun perempuan, tak luput dari tangan jahilku. Hamper semua siswi pernah menjadi korban kejahilanku. Siswanya pun habis kupukuli dan kupalak. Hanya satu yang tak pernah menampakkan ketakutan bila berhadapan denganku. Ali namanya, seorang siswa penerima beasiswa. Ia tyak pornah takut bila berhadapan denganku, malah ia tersenyum. Hal itu membuatku makin geram padanya dan penasaran ingin melihat kemarahannya.
Sabtu sore, Ali diberi mandate oleh Kepala Sekolah untuk mengecat tiang bendera yang warnanya telah pudar dihantam zaman. Ia pun mentaatati perintah Kepala Sekolah, meski harus mengerjakannya seorang diri. Melihat situasi ini, pikiranku berinisiatif untuk menemaninya sekaligus menciptakan rasa takut padanya bila ia berhadapan denganku lagi.
Aku masuk ke ruangan Kepala Sekolah dan menawarkan diri membantu Ali mengecat tiang bendera.
“Pak, boleh saya membantu Ali mengecat tiang bendera?”, taearku.
“Yang benar kamu?”, Tanya Kepala Sokolah.
“Benar, Pak.”
“Saya tidak menyangka. Murid seperti kamu mau melakukan pekerjaan ini.”
“Setiap orang ka nada sisi baiknya, Pak. Jadi boleh tidak aku membantunya?”
“Boleh, boleh.”
“Terima kasih, Pak.”
Aku mencium tangan Kepala Sekolah untuk menambah keyakinannya, kemudian pergi dengan langkah girang, disusul Kepala Sekolah yang akan bertolak pulang. Kuhampiri Ali yang sedang mebuka kaleng tinner untuk dicampurkan dengan cat. Aku melangkah perlahan, kukeluarkan pisau lipat dari saku celanaku untuk menggertak Ali agar timbul rasa takutnya padaku.
“Lagi apa, Li?”, tanyaku tiba-tiba.
“Eh. Kamu, Jod. Ada apa?” sahutnya.
Aku tak menjawab. Aku semakin mendekat padanya dan, “Sekarang masih tidak takut kau denganku?”, tanyaku seraya menodongkan pisau ke lehernya.
Tak disangka, perbuatanku mengejutkan Ali dan menumpahkan tinner di tangannya ke wajahku dan otomatis mengenai mataku. Seketika itu aku merintih dan merung-raung kesakitan. Kututupi wajahku dengan kedua telapak tanganku.
“Aarrgh! Sakit!”, rintihku.
Dengan samara kulihat Ali panik. Ia pergi ke toilet, namun tak ada air karena sejak pagi listrik. Ia berlari meninggalkanku. Aku merintih sendiri di lapangan upacara.
Hampir dua pulih menit aku ditinggal sendirian oleh Ali, kemudian ia dating dengan membawa seember air. Semakin samara aku melihatnya. Ali menyiramkan air dalam ember terse but ke wajahku dan mengucek-ucek mataku, tapi hasilnya nihil.
Ali membopong dan menaikanku ke dalam taksi. Kudengar suara Ali berseru pada sopir taksi tersebut, “Pak, ke rumah sakit” dan seruannya langsung dipatuhi oleh sopir taksi tersebut.
Taksi melaju dengan cepat. Aku semakin tak kuat menahan rasa sakit dan tak lagi sadarkan diri.
***
Setelah sadar, hanya kegelapan yang tertangkap oleh mataku.
“Dimana ini?” tanyaku pelan, tak tertuju pada diriku sendiri.
“Kamu ada di rumah sakit, Nak.”, terdengar suara ibu menjawab pertanyaanku.
“Tapi, kenapa gelap sekali?”
“Dokter bilang kamu mengalami kebutaan karena terlalu lama tinner berada di matamu.”
“Apa? Tidak mungkin!”
“Ini benar, Nak.”
Aku berteriak histeris, tak dapat menerima kenyataan ini. Kuremas-remas rambutku, kupukul-pukul dadaku. Aku menangis sejadi-jadinya.
“Lalu dimana Ayah?”
“Beliau sedang di ruangan dokter.”
Tak lama kemudian terdengar suara pitu dibuka. Terdengar suara Ayah bertanya padaku dari gawang pintu, “Jodi, kamu sudah siuman?”
“Ayah?”, sakutku.
“Ya. Syukurlah kamu sudah sadar.”
“Kenapa harus bersyukur, bukankah hanya ragaku yang sadar?”
“Maksudmu?”, Tanya Ibu.
“Mataku tak ikut merasakan kehidupan. Kenapa tidak ia bunuh saja aku?”
“Maksudmu Ali?”, Tanya Ayah.
“Siapa lagi. Hanya aku dan dia yang ada disana.”
“Jangan berkata demikian! Ali tak bersalah. Ia hanya kaget saat kamu menodongkan pisau ke lehernya. Kamu mau membunuhnya? Lagipula kamu masih bias sembuh bila ada yang mendonorkan matanya padamu.”
“Tidak. Aku hanya ingin dia takut padaku.”
***
Kutempelkan kedua bibirku pada cangkir teh yang ada ditanganku, tapi cangkir tersebut tak berisi teh lagi. Kubanting cangkir tersebut hingga Ibu masuk ke kamarku.
“Ada apa, Jod?”, tanyanya.
“Ako bosan dengan kegelapan ini.”
“Kamu tidak akan merasakan kegelapan lagi, karena lusa kamu akan operasi.”
“Yang benar?”
“Untuk apa Ibu berbohong padamu”
“Aku tersenyum gembira. Lama aku tak tersenyum setelah aku kehilangan penglihatan.”
***
Saat yang dinanti telah tiba. aku memasuki ruang operasi pukul empat sore, setelah paginya aku tiba di rumah sakit untuk diperiksa kesehatannya dan beristirahat. Terasa jarum suntik menembus pori-pori kulitku dan akupun meningalkan alam sadarku.
Sebulan kemudian, hari pertama aku membuka perban di mataku, pertama kali pula aku dapat kembali melihat indahnya dunia. Setelah seluruh perban dibuka, terlihat cahaya begitu terang mengyhampiri mataku, men unjukkan dunia yang begitu indah.
Di hadapanku ada dokter, Ayah serta I bu. Kulihat mereka tersenyum bahagia melihat kesembuyhanku.
“Siapa malaikat yang telah mendonorkan matanya padaku?’ tanyaku.
“Kamu baca surat ini agar kamu tahu siapa malaikat penolongmu!” jawab Ibu seraya menyerahkan sepucuk surat padaku.
Kubaca surat itu. Demikian isi surat yang kubaca:
Untuk Jodi, sahabatku.
Saat kau baca surat ini, mungkin aku telah tak ada lagi di dunia.
Aku telah berdosa menghilangkan cahaya dari matamu. Sungguh aku ingin menebus kesalahanku. Aku mendatangi kedua orang tuamu untuk menjebloskanku ke penjara karena telah menyakitimu, namun mereka tak menghiraukannya karena menurut mereka, aku tidak bersalah ketika aku menjelaskan kejadian yang saat itu menyebabkanmu menderita. Meski orang tuamu mengangap aku tak bersalah, aku tetap[ dihantui dosa. Aku minta agar Kepala Sekolah mencabut beasiswaku dan mengeluarkanku dari sekolah, namun beliau pun tak menghiraukannya.
Aku tak pernah bias menghilangkan rasa bersalah ini. Maka, kuputuskan untuk memberikan kornea mataku padamu setelah ragaku terbujur kaku. Ya, kanker otak telah menghabisi hidupku.
Jodi, maafkan kesalahanku.
Tertanda
Alimudin
***
Air mata berlinang menlintasi pipiku. Aku menyadari ternyata Ali tak pernah menaruh benci padaku, tapi aku menyimpan begitu besar kebencian terhadapnya yang tak memiliki salah sedikitpun padaku.
“Terima kasih, Ali. Selamat jalan! Kan kujaga cahaya yang telah kau berikan padaku dan akan menjadi amal yang tak pernah putus bagimu.”, batinku.
-SELESAI-
Rabu, 14 Oktober 2009
cerpen: SENYUM TERAKHIR ADINDA
Bisikan Adinda mengalir ke dalam darahku, naluriku menyatakan bahwa Farhan adalah orang yang tepat bagi Adinda. Kulukiskan senyum tipis dan berkata, “Far, gue percaya sama lo. Jangan skitin Adinda ya!”
“Jadi, lo percayain Adinda ke gue?”, tanya Farhan dengan riangnya.
Kulihat Adinda tersenyum bahagia. Ia memelukku erat-erat.kurasakan air matanya menetes di dadaku, air mata kebahagiaan yang tak pernah kulihat sebelumnya.
“Terima kasih ya, Kak. Aku senang akhirnya Kakak bisa percaya sama Dinda buat jatuh cinta.”, kata Adinda padaku.
“Sama-sama, Dik.”, balasku.
Kuraih jemari Farhan dan Adinda, kemudian kusatukan keduanya. Aku melihat rona kebahagiaan terus terpancar dari wajah halus Adinda. Bagaimana tidak, baru kali ini aku mengizinkan seorang lelaki mencintai Adinda.
“Dinda, Kakak gak akan halangi kamu untuk mencintai farhan, karena Kakak mau kamu terus tersenyum hingga waktu yang tak Kakak inginkan itu datang.”, pikirku.
***
Langit begitu pekat, tak ada satupun bintang yang mengedipkan cahayanya. Rembulan pun tak menampakkan kecantikannya. Semilir angin tak menghentikan cucuran keringat dingin yang mengalir di tubuhku, keringat yang tercipta oleh rasa khawatir.
“Ya Allah, ada apa ini, kenapa Adinda belum juga pulang?”, gumamku.
Kulihat jam dinding telah menunjukka pukul sepuluh malam, terlalu malam bagi Adinda untuk berada di luaran. Hatiku bergemuruh, naluriku merasakan detak-detak kekhawatiran di setiap detak jantungku.
Kucoba menghubungi Adinda, namun tak mendapat jawaban. Kuhubungi Farhan, tapi ponselnya tidak aktif. Aku berkata dalam hati kecilku, “ Ya Allah, lindungi Adinda! Hamba tidak mau terjadi apa-apa padanya.”
Terdengar suara pintu diketuk, disusul oleh suara Farhan, “Assalamu ‘Alaikum.”
Kubuka pintunya, lalu kulihat Farhan terengah-engah. Keringat mengalir deras dari seluruh tubuhnya. Mukanya pucat pasi, rambutnya tak lagi tertata-rapi.
“Ada apa, Far?”, tanyaku.
“Adinda…”
“Kenapa Adinda, dimana dia?”
“Dia..”
“Iya, dia kenapa?”
“Adinda masuk rumah sakit, Rik.”
Mendengar Adinda masuk rumah sakit, hatiku merasa pilu. Tak terasa air mata mengalir di sela-sela pipiku. Kuremas bahu Farhan dan bertanya padanya, “Kenapa Adinda bisa masuk rumah sakit?”
Ia tertunduk dan terdengar isak tangis darinya, kemudian menjawab pertanyaanku, “Gue gak tahu, Riki. Tiba-tiba saja dia merasa pusing, kemudian pungsan. Gue bawa dia ke rumah sakit.”
“Terus kenapa lo gak hubungi gue?”
“Hape gue mati, Rik. Baterainya lemah. Di hape Adinda gue ga nemuin nomor lo. Gue coba cari tumpangan untuk kesini, tapi gak ada yang mau nampung gue. Jangankan buat naik taksi, naik angkot pun gue gak ada ongkos. Duit gue abis buat administrasi Adinda di rumah sakit. Jadi, gue lari dari rumah sakit kesini.”
“Ayo, kita ke rumah sakit sekarang!”, seruku penuh kecemasan.
Kukeluarkan mobil dari garasi, setelah Farhan masuk aku langsung menancap gas cepat-cepat menuju rumah sakit. Lampu-lampu Jakarta menatap tajam kea rah jalanan, menyelamatkan laju mobilku dari kebutaan.
Sesampainya di rumah sakit, kupeluk Adinda yang tengah berbaring tak berdaya. Aku tak kuasa membendung air mataku. Sedih sekali aku melihat adikku terbaring seperti itu. Jangankan tertawa, tersenyumpun ia tak bisa.
“Rik, maafin gue ya! Semua ini salah gue. Gue gak bisa jagain Adinda.” Kata Riki yang berdiri di sampingku.
“Gak ada yang harus di persalahkan. Semua ini udah diatur oleh Allah.”
“Gue inget kata-kata terakhir sebelum Adinda mengeluh pusing dan akhirnya pingsan.”
Aku tercengang mendengar ucapan Farhan, kemudian aku bertanya padanya, “Dia bilang apa, Han?”
Farhan tertunduk, lalu berucap, “Dia bilang…”
Belum sempat Farhan meneruskan kata-katanya, terdengar suara Adinda memanggil-manggil ayah dan ibu kami. Suaranya begitu lirih, hingga air mata mengalir begitu saja dari pipiku tanpa aku sadari.
“Ma, Pa. Dinda kangen sama kalian. Dinda mau kita kumpul lagikaya dulu.dinda sedih kalian gak pernah pulang.” Kata Adinda dengan lirihnya.
Mendengar Adinda mengeluh di alam bawah sadarnya, aku mengerti sekali akan kerinduan yang ia rasakan pada ayah dan ibu. Kutelepon ibu satu persatu dan kuminta untuk pulang dan menemui Adinda.
“Tapi, Mama sibuk disini.” Kata ibuku dari ujung telepon.
“Sibuk apa? Mama gak saying ya asama Adinda?” tanyaku bernada setengah tinggi.
“Mama kan harus ngurusin bisnis Mama disini. Kan uangnya buat kalian juga.”
“Kamu gak butuh uang berlimpah kalau kami sendiri gak pernah merasakan kasih sayang.”
Kuputuskan sambungan telepon dengan kekesalan yang menumpuk. Karena tidak mendapat tanggapan yang menyenangkan dari ibuku, maka kuputusan untuk menelepon ayah. Aku berharap beliau akan pulang dan menemui Adinda di rumah sakit, meskipun ia tak akan mau lama untuk meninggalakan pekerjaannya.
Jawaban dari Ayah sama saja dengan Ibu. Beliau tidak mau pulang, meski untuk menjenguk putrinya yang tengah terbaring lemah. Aku amat marah akan hal ini. Kubanting ponselku hingga tak berbentuk lagi. Semua komponennya hancur, namun tak sehancur hatiku yang menyaksikan adik perempuannya sakit keras dan orang tuanya enggan menemuinya.
Farhan berusaha untuk menenangkanku dan memberiku segelas air putih. Saat kuteguk air dalam gelas tersebut, kudengar suara Adinda memanggilku. Aku menoleh ke arahnya dan kulihat ia tengah menatapku. Melihat wajah pucatnya aku semakin pilu. Rasanya ingin sekali aku menggantikan posisinya.
“Kak, mana Mama sama Papa?” tanyanya padaku.
Aku tertunduk mendengar pertanyaan Adinda. Aku tak bernyali untuk mengatakan yang sesungguhnya. Sakit hatiku bila melihat adik tercintaku itu sedih.
“mereka akan pulang lusa, Dik.” kataku berbohong.
Adinda tersenyum mendengar perkataanku. Terlihat di wajahnya secercah harapan untuk bertemu Ayah dan Ibu. Namun, ia terpejam setelah tersenyum. Aku tak melihat perutnya mengembang dan mengempis. Aku bingung dan tak tahu harus bagaimana.
“Rik, Adinda gak bernapas.” Kata Farhan spontan.
“Apa?”
“Gue panggil dokter kesini.”
***
Dua bulan setelah Adinda terbaring lemah di rumah sakit karena kanker yang ia idap semakin menggerogoti otaknya, ayah dan ibu pulang secara bersamaan. Seolah-olah mereka telah merencanakan ini sebelumnya.
“Riki, dimana Adinda?” Tanya Ayah padaku.
“Iya. Mana, Rik?” lanjut Ibu.
“Kalian mau tahu Adinda dimana?” aku balik bertanya.
“Iya.” Jawab ayah dan ibu sambil bersamaan.
Kubawa mereka ke tempat Adinda berada. Sebuah makam yang selalu diberi rangkaian bunga oleh aku dan Farhan setiap harinya, dingga menumpuk di sekitar makamnya.
“Kamu jangan bercanda, Rik!” seru Ayah dengan marahnya.
“Aku gak bercanda.” Jawabku singkat.
“Jadi, adinda…” lanjut Ibu, namun kupotong, “Ya. Dia meninggal dan saat hari terakhrinya kalian gak ada yang mau menemuinya. Yang kalian pentingkan hanya uang dan uang. Sekarang, Adinda udah gak ada. Apa uang yang kalian dewakan bias mengembalikan Adinda?”
Ayah dan Ibu menangis sejadi-jadinya, beberapa kali terucap kata maaf dari bibir mereka.
“Terlambat.” Kataku seraya meninggalkan mereka.
-SELESAI-
Senin, 12 Oktober 2009
Minggu, 11 Oktober 2009
cerpen: DANAU PELANGI
Binar kebahagiaan terlukis indah di wajahku saat Diana menancapkan mawarnya di hatiku. Senumnya seolah menjadi penghangat dalam hijan saat bulan januari.
“Tirta, kehadiranmu dalam hidupku ibarat pelangi yang hadir pasca hujan. Jadilah pelangi hatiku!” kata Diana.
“Aku melihat ada kesejukan di matamu yang memberi tetes kesegaran di hatiku yang semula gersang. Aku akan jadi pelangi bagimua, Diana.”
Aku terus menatap mata indah Diana yang memancarkan kesejukan bagiku, lalu kupeluk erat-erat tubuh mungilnya untuk beberapa saat, setelah itu kuremas jemarin tangannya untuk menyalurkan kehangatan cintaku padanya.
Hujan mengendurkan guyurannya, pelangi menampakkan warna-warninya bersamaan dengan titik-titik terakhir dari air langit, namun matahari belum menyusul.
“Ini saatnya aku mengajak dianamenikmati taman ini.” Pikirku, kemudian berkata padadiana,”Sayang, aku ingin megajakmu berkeliling taman ini, menatap indahny bunga-bunga yang bergembira setelah diguyur hujan dan biarlah pelangi menyaksikannya!”
Diana menganggukkan kepalanya seraya menyunggingkan senyun hangatnya. Kugandeng ia tanpa sedetikpun kulepas tangannya, karena aku tahu tak setiap hari aku dapat menggenggam jemarinya.
Kuhentikan langkahku di bawah sebuah pohon cemara. Sebuah danau terhampar indah di hadapan kami berdua. Kutarik diane menuju tepi danau yang menjadi wahana bermain bagi angsa-angsa dan hewan kecil lainnya.
“Tirta, lihatlah keluarga angsa itu! Mereka terlihat sangat bahagia bia berkumpul dan bermain-main di danau saat cuaca yang sejuk ini. Aku pun ingin seperti mereka kelak dan tentunya bersama kau dan anak-anak kita nantinya.”
“Kamu yakin bias menungguku?”
“Yakin sekali.”
Kudekap erat tubuh Diana dengan rasa penuh cinta. Kuhirup udara
Kulihat matahari telah nampak dan posisinya empat puluh
“Ini saatnya aku mengantar kamu pulang, setelah itu aku harus kembali meninggalkan Jakarta.” Kataku
“Ya. Kita memang harus berpisah saat ini, tapi aku ingin hatimu tak pernah berpisah dari hatiku.”
“Pasti.”
Kuarahkan langkah kami menuju istana Diana. Namun, baru sampai gang ku mengantarnya, aku sudah dihentikan olehnya.
“Sampai sini saja kamu mengantarku!” ucap Diana.
“Kenapa?”
“Belum saatnya kamu ke rumahku.”
“Lalu kapan aku bias main ke rumah kamu?”
“Semua ada waktunya. Kamu tunggu saja!”
“Oke, kalau itu mau kamu. Kamu hati-hati di jalan! Aku pulang dulu. Takut kemalaman.”
Kupalingkan tubuhku kea rah berlawanan,kemudian kupacu sepeda motorku untuk jarak yang cukup jauh, menuju Serang, ibukota dari Provinsi Banten.
***
Beberapa hari berselang, aku tak pernah lagi menerima telepon atau SMS lagi darinya. Hal ini membuat hatiku takakruan. Kucoba meneleponnya, namun tak pernah ia angkat, ratusan SMS kukirimkan, namun tak ada jawaban.
“Kenapa Diana gak pernah bales SMS gue, bahkan teleponpun ga pernah diangkat? Apa aku punya salah ya? Tapi apa? Atau dia udah berpindah hati? Tapi kenapa dia bersikap mesra sama gue waktu itu?” pikirku dengan ribuan tanda tanya.
Lelah aku diacuhka,akhirnya aku mencapai titik jenuh dan memutuskan untuk menelepon Diana dengan nomorlain yang ia tidak keahui. Disini aku mendapat jawaban yang sungguh takpernah kuharapkan.
Saat terhubung dengan nomor selular Diana seorang lelaki berbicara padaku bahwa aku tak lagi diperkenankan untuk mengganggu hidup Diana lagi.
“Hey, siapa lo ngelarang gue berhubungan dengan Diana? Gue cowoknya” kataku dengan nada sangat tinggi.
“Tapi gak buat saat ini!” jawabnya.
Jawabannay semakin membuatku geram, kata-kata kasarpun tak sangguplagi terbendung dari bibirku.
“Gue ga percaya kalo ga denger dari mulut Diana sendiri.” Kataku setelah melepaskah cacian padanya.
“Oke!”
Setelah itu,kudengar indah suara Diana, namun tak seramah dan semanja beberapa waktu sebelumnya ketika aku menemuinya.
“Kenapa kamu masih ganggu aku. sekarang aku udah ma Dion. Aku bosan ma kamu yang gak selalu ada saat aku butuh kamu.” Kata Diana dengan kasarnya.
“Tapi, Na..”
“Tuttt… tuttt…” terdengar suara sambungan diputuskan dengan menyakitkan. Melemahkan seluruh isi dalam diriku, jiwa, raga dan semangatku.
Kini kurasakan kehilangan yang amat menyakitkan. Pedih sekali bila kuhirup. Semkin kuingat,maka akan semakin menyakitkan.
***
Dendam menggelayut di pundakku, namun cinta takpernah mau pergi dari hatiku. Aku memutuskan untuk pundah ke
Kubangun sebuah kafe untuk menopang kehidupanku di ibukota dan tak kusangka Diana yang tak mengetahui kafe ini milikku selalu dating setiap akhir pekan. Aku bahagia bias dengan mudah melihat senyum Diana, meski senyum itu untuk Dion.
Sabtu malam ini, kulihat Diana tengah terlibat pembicaraan serius dengan Dion. Rasa penasaran mencengkram jiwaku,maka kuperintahkan pelayan kafeku untuk mendengarkan pembicaraan mereka dengan cara berpura-pura membersihkan meja nomor delapan,meja yang terletak di sebelah meja Diana dan Dion duduk.
Beberapa saat kemudian Fani, pelayan yang kuperintahkan untuk menguping kembali dan mengabarkan sebuah berita yang dapat meremukkan hatiku. Diana hamil dan Dion tak mau bertanggungjawab.
“Fani, kamu panggil Boy dan Roni kemari!”
“Baik, Pak.”
Setelah Boy dan Roni menghadap, kuperintahkan untuk memegangi Dion agar tak kemana-mana. Setelah Dion terkunci, aku menghampirinya dan berkata,”Lo harus bertanggung jawab atas perbuatan lo!”
“Maksud lo?” tanay Dion bak orang kebingungan.
Mendengar pertanyaan Dion aku merasa geram dan melayangkan pukulan keras kea rah pelipisnya, hingga mengucurkan darah.
“Lo harus bertanggung jawab atas kehamilan Diana!” lajutku
“Kok lo tau?”
“Kafe ini puny ague, ajdi gue bias tau apapun yang gue ingin tahu di kafe ini.”
Diana menatapku dengan berlinang air mata. Aku berusaha tak melihat air matanya, karena itu hanya akan menyakitkanku saja.
“Tapi lo jangan perlakukan gue kayak maling gini, dong! Kita bicara secara jantan!”
“Oke. Boy, Ron, lepasin badut pasar ini!”
Setelah Boy dan ronimelepaskan Dion, dia kaur meninggalkan kafe. Tentu saja aku beserta Boy dan Roni mengejarnya dan ketika Dion hendak menyeberang jalan, sebuah truk melindasnya dan mengakhiri kehidupannya.
Diana mendekat dan berkata, “Sekarang siapa yang akan jadi ayah untuk anakku?”
“Aku.” Jawabku.
Diana menatapku dan langsung memelukku.
“Tirta, maafin aku, ya! Aku udah jahat menyia-nyiakan kesetiaan kamu.”
“Gak apa-apa. Aku akan menikahi kamu setelah anak yang kamu kandung lahir dan berusia delapan bulan, karena menikah saat hamil itu haram.”
“Terima kasih, Tirta. Kamu memang bagai air yang selalu memberi kesejukan”
Sementara itu, jenazah Dion telah dievakuasi oleh polisi yang tengah patroli dengan kasus kecerobohan menyebrang yang dilakukan oleh Dion.
***
Tiba saatnya aku menikahi Diana. Meski tak pernah mengenal malam pengantin, aku bahagia dapat hidupbersama bidadari hatiku.
Kukenalkan Dita, anak yang lahir dari rahim Diana dengan danau pelangi yang menyimpan sejarah cintaku bersama ibuya.
_TAMAT_
Senin, 10 Agustus 2009
Waktu, cinta dan luka
Serang, 2003. Aku mulai mengagumi sainganku, seorang anak perempuan yang terbilang pendek namun brilian, Riana namanya. Aku terpesona akan kecerdasannya. Sebagai seorang anak SD, aku sudah berani jatuh cinta padanya. Namun, waktu memisahkan kami. Saat sekolah meluluskan kami di tahun 2004, aku tak pernah lagi melihat dia.
Aku dan Riana masuk ke SMP yang berbeda. Riana masuk ke negeri, sedangkan aku di sekolah swasta. Di sekolah baruku aku sempat mengubur perasaanku dan mencari hati lain, namun tak pernah kutemukan. Aku berpikir mungkin ia sudah mendapatkan cinta di sekolah barunya di SMP Negeri 1. Akupun selalu mencoba mencari hati yang lain, namun hasilnya tetap nihil. Hal ini terjadi sampai aku lulus SMP dan sudah bekurang memori tentangnya.
Di SMA aku masih mencari hati yang tepat untukku dan pada smester kedua aku menemukan hati di sekolah lain, Nia namanya. Dia seorang modern dancer yang karirnya terus naik. Namun, hubunganku dengannya hanya bertahan tiga bulan saja. Begitu pula dengan yang lainnya, aku hanya mampu bertahan tiga bulan dengan mereka.
“Kenapa setiap kali aku menjalin hubungan dengan seorang gadis hanya mampu bertahan tiga bulan?”, Tanya benakku selalu.
Aku terus mencari jawaban, namun tak pernah kutemukan.
Waktu terus merangkak, entah berapa orang yang telah kupacari dan hanya bertahan tiga bulan. Tibalah saat aku menginjak kelas tiga di tahun 2009. aku menjadi panitia reuni antar alumni SDN 2 K lulusan 2004 san aku teringan akan masa lalulu yang pernah kucintai.
Aku terus mencari informasi tentangnya. Mulai dari tenya
Selasa, 04 Agustus 2009
puisi: MAWAR PUTUH
terperangah akan harumya
setiap kumbang yang singgah
tersepsona akan indahnya
mawar putih yang tak pernah layu
meski tengah berseteru sengan kalbu
tak kan pernah jadi abu
mawar yang selalu kusimpan
dalam sanubari