Sebuah refleksi dari desakan gerutu jiwa yang ingin mengaspirasikan suaranya yang tertahan dalam sebuah ide tanpa pintu keluar.
Jumat, 27 April 2012
PUISI: DERAP NISTA
terseok-seok di atas hamparan peluh
kulihat sesosok kupu-kupu
tengah menangis dengan sayap layu
kutanya dia:
wahai kupu-kupu kenapa kau merana
dia menjawab dengan terisak-isak:
aku tak mau lagi menderap-derap dengan nista
aku telah banyak mereguk dosa
dan mungkin aku terlambat menyesali semuanya
kubisikkan berita dari angin yang telah lama tersiar:
wahai kupu-kupu yang mempesona
tak ada kata terlambat untukmu menutup sayap-sayap nistamu
tuhan pun akan menggantinya dengan sayap-sayap suteranya
jika kamu tak lagi menyentuh sarang-sarang laknat
Senin, 23 April 2012
SAJAK PILU SANG PENCARI SAKSI
aku adalah pengagum bangunan yang menjadi saksi sejarah
aku benci pemerintah yang merobohkan bangunan-bangunan tersebut
semakin berkurang saksi masa silam itu, semakin buta mataku menerawang sejarah negeriku
hai penguasa, hargai saksi-saksi bisu itu
jangan terlena akan investasi besar-besaran, sedang saksi negeriku kau tumbangkan satu per satu
Selasa, 14 Februari 2012
MENGUNTIP MESIN CETAK ORIDAB

Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, beberapa tahun kemudian Belanda datang dengan sekutu untuk menjajah kembali Negeri Nusantara. Akibat agresi tersebut, Indonesia mengalami krisis sehingga hubungan antara pemerintah pusat dan daerah menjadi terputus.
Akibat dari krisis tersebut, Keresudenan Banten mecetak uang sendiri yang dinamakan ORIDAB (Oeang Repoblik Indonesia Daerah Banten) yang digagas oleh KH. Tubagus Ahmad Khatib yang saat otu menjadi Residen Banten yang tetap RI.
Mungkin masyarakat sekarang akan berpikir untuk memisahkan diri dari Republik Indonesia ketika memiliki kemampuan membuat mata iang sendiri dan memiliki ekonomi yang maju. Namun, masyarakat BAnten saat itu memiliki jiwa nasionalisme segagah Gunung Krakatau, sehingga tidak terpikir untuk memisahkan diri dari RI.
Sabtu, 04 Februari 2012
PUISI: SEJARAH MAWAR
menyeberangi aliran sungai yang begitu panjang
hingga sampai di tepian sejarahmu
mawar
dengan pisau ini akan kuratakan duri-durimu
sungguh durimu telah melukai daging halusku
wangimu di sejarahmu ta sewangi saat ini
kelopakmu saat ini tak seanggun saat sejarahmu
dengan luka ini kucoba menulis puisi
puisi tanpa makna
puisi yang hanya memancarkan kegundahan auraku
Sabtu, 20 November 2010
IRONI SETANGKAI MAWAR

Saat itu, tujuh hari sebelum Idul Fitri aku mengantarnya membeli pesanan saudaranya. Mataku tak berhenti menata ke arahnya. Sebuah kata yang ingin kuucapkan tak mampu kuhempaskan. Aku lemah ketika melihat matanya. Lidahku tak dapat menari-nari bak penyanyi yang mengalunkan lsan dengan irama musiknya. Angin dan debu seolah mentertawakanku.
Dalam hati, aku harus mengatakannyasekarang juga! Kuikuti kemana langkahnya melaju, seseka kuhibur dia dengan lawakan garingku. Aku senang meihat tawa lebar di wajag kecilnya. Seperti bibir pantai yang bertabrakan dengan ombak samudera. Dan ketika aku akanmegatakannya, lagi-lagi lidahku terpenjara rasa takut, grogi dan malu.
Terlintas sebuah akal di benakku. Aku akan ajak dia ke mal dan menyatakan semuanya di sana. Dan lagi-lagi aku tak sanggup mengatakannya. Akhirnya Bunga memutuskan untuk pulang. Dalam hati kecil aku berkata, “Aduh agagal lagi aku meluapkannya.”
Sebuah angkutan kota yang lumayan sempit dan panas kami naiki, rasa ingin berucap masih menggebu-gebu. Akhirnya kunyatakan semuanya di dalam angkutan kota tersebut.
“Kamu mau jadi kekasihku?”, tanyaku sambil tertawa malu.
Lama ia tak menjawab. Sampai terminal dan berpindah angkutan kota, ia masih tak menjawab. Baru setelah dekat dengan rumahnya Bunga mau menjawabnya.
“Sebenarnya aku juga menyayagimu. Aku mau jadi kekasihmua”,ungkap Bunga padaku dengan tersipu malu.
“Yes!”, kataku mengekspersikan kebahagiaanku.
Akhrnya aku mendapatkan cintanya. Saat Idul Fitri tiba, aku pun menemui keluarganya untuk bersilaturahmi. Sambutannya baik. Aku senang dengan keluarganya.
Setiap sabtu aku punya jadwal pacaran dengan Bunga. Ya, bahagia saat itu tak kan pernah terganti dengan apa pun. Meski ada saja hal yang membuat kami bertengkar kecil, tapi Aku dan bunga tetap merasakan indah setiap bertemu.
Kemana Bunga pergi aku selalu siap mengantarnya, meski harus menumpang angkutan kta setiap aku menemaninya. Untunglah Bunga dapat mengerti keadaanku. Ya, pengertiannya yang membuatku tak mau kehilangan dia.
***
Prahara baru datang ketika bos dari orang tuanya menasihati Ibu Bunga. Ia bilang agar bunga tak diizinkan mengenal cinta dulu sebelum ia lulus kuliah dan bekerja, kalau bisa harus sesama Orang Jawa. Dari situ orang tua Bunga tak merestu hubungan kami.
Suatu pagi, aku tengah menyaksikan televisi. Sebuah pesan masuk ke ponselku. Dari bunga.
Dari : Bunga
Untuk : Gun
“Hubungan kita sampai di sini saja ya”
Dari : Gun
Untuk : Bunga
“kenapa?”
Bunga menjelaskan bahwa orang tuanya sudang melarang dia berhubungan denganku lagi. Seperti disamar petir aku tak bisa menerima kenyataan itu. Aku meminta kepada Bunga untuk tak mengakhiri hubungan kami.
Bungan meneleponku. Ia menangis. Ia berkata bahwa sungguh tak mau meninggalkanku, tapi orang tuanya melarang kami berhubungan. Aku menolak keputusan tersebut. Ini tak adil bagku. Sebuah ironi. Seperti mawar yang memiliki kelopak indah, namun memiliki tangkai yang berduri. Sakit.
Aku memutuskan untuk membuat kesepakatan dengan Bunga. Kami akan tetap menyatukan hati meski tanpa sepengetahuan orang tuanya. Ya, meski Bungasempat ragu dengan kemantapan hatiku, selamanya aku akan mencintainya. Tak seorang pun boleh mengambilnya dariku.
Selasa, 09 Maret 2010
SUBHANALLAH!!! ADA SUNGAI DI DASAR LAUTAN

Maha Suci Allah yang Maha Menciptakan
Sungai dalam Laut
“Akan Kami perlihatkan secepatnya kepada mereka kelak, bukti-bukti kebenaran Kami di segenap penjuru dunia ini dan pada diri mereka sendiri, sampai terang kepada mereka, bahwa al-Quran ini suatu kebenaran. Belumkah cukup bahwa Tuhan engkau itu menyaksikan segala sesuatu. ” (QS Fushshilat : 53)
“Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan) ; yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S Al Furqan:53)
Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton rancangan TV `Discovery’ pasti kenal Mr.Jacques Yves Costeau , ia seorang ahli oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke perbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat filem dokumentari tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton di seluruh dunia.
Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya kerana tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang masin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.
Fenomena ganjil itu memeningkan Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari penyebab terpisahnya air tawar dari air masin di tengah-tengah lautan. Ia mulai berfikir, jangan-jangan itu hanya halusinansi atau khalayan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawapan yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.
Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor Muslim, kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan ( surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez . Ayat itu berbunyi “Marajal bahraini yaltaqiyaan, bainahumaa barzakhun laa yabghiyaan.. .”Artinya: “Dia biarkan dua lautan bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak boleh ditembus.” Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53 di atas.
Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diertikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air masin dari laut. Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi “Yakhruju minhuma lu’lu`u wal marjaan” ertinya “Keluar dari keduanya mutiara dan marjan.” Padahal di muara sungai tidak
ditemukan mutiara.
Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur’an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Al Qur’an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera. Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam
akhirnya terbukti pada abad 20. Mr. Costeau pun berkata bahawa Al Qur’an memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar. Dengan seketika dia pun memeluk Islam.
Maha Suci Allah yang Maha Menciptakan
Sungai dalam Laut
“Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan) ; yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S Al Furqan:53)
Selasa, 08 Desember 2009
DUNIA YANG HILANG

Langit hitam tak sekelam biasanya. Angin terasa lebih dingin dari malam-malam sebelumnya. Bintang semakin sinis menatapku. Aku semakin asaing di hadapan mereka. ini bukan duniaku. duniaku telah kubuang dengan keji beberapa tahun lalu, karena aku tak puas akan kodratku.
Banyak elemen masa berkoar bahwa orang sepertiku harus dilindugi, aku pun pernah mengatakannya pada kedua orang tuaaku saat aku lelah diceramahi oleh mereka. Masih jelas di telingaku yang merekaa ucapkan saat itu.
"Kalau kau manusia, kenapa kau tak menerima kodratmu sebagai manusia. dan kau diciptakan menjadi laki-laki. Kodratmu sebagai manusia adalah laki-laki. Kau sudah ingkar terhadap nikmat yang Allah berikan!", tegas Bapak.
"Kembalilah kepada kodratmu nak! ini bukan duniamu.", lanjut Ibu diiringi isak tangis. mungkin ia menyesal telah melahirkanku.
Aku tak mengindahkan perkataan yang mereka lontarkan. Aku tetap melangkah hendak meninggalkan rumah. Saat aku sampai di gawang pintu, Bapak berkata deengan penuh amarah, "Kalau kau keluar selangkah saja dari rumah ini dengan mengingkari kodratmu, jangan pernah kembali ke rumah ini sampai kau kembali menjadi dirimu seperti yang telah Allah amanahkan padamu sebagai seorang laki-laki."
"Baik. Aku tidak akan kembali ke rumah ini. Untuk apa aku satu atap dengan orang tua yang tidak memahami hak asasi manusia.", jawabku sinis.
Aku pun pergi meniggalkan rumah, melangkahkan kaku tak tentu arah. Aku tak ingat lagi tujuanku pergi dari rumah. Banyak pemuda yang mentertawakanku saat aku melintas di hadapan mereka. Bahkan, tak sedikit yang mengatakan "cewek jadi-jadian". Aku berpikir mengapa mereka tak menghargai pilihan hidupku? Aku juga manusia. Aku punya hak untuk memilih jalan hidupku.
Telah dua tahun aku hidup jauh dari orang tuaku. Aku tinggal di salon milik kawanku sesama waria yang berlokasi deekat deengan sebuah kompleks industri. Terkadang aku pun menjajakan cinta kepada sopir-sopir gila yang haus cinta dan tak memandang gender.
Namun, malam ini sunyi. Hanya kebencian alam yang aku rasakan. Mereka seperti mengisyaratkan kotoran yang bersemayam dalam diriku. Tak terasa air mata melintas di sela-sela pipiku. Aku merasa ada yang hilang daari hidupku. Sesuatu yang berharga.
Aku pergi meninggalkan pangkalan citaku, kemudian kembali ke salon menemui sahabatku Lussi, yang pada saat di kampung namanya adalah Tusi. Aku menceritakan kegalauan hatiku padanya dengan air mata yang terus mengalir. Seolah tak mau berhenti sebelum aku mendapatkan sesuatu yang hilang dari hidupku.
"Lus, aku merasa sakit akan hal ini. Aku merasa sesuatu yang berharga hilang dariku. Kenapa aku ini?"
"Sepertinya kau telah merasakan bahwa duniamu, dunia kita di masa lalu adalah sesuatu yang harus dicari dan diambil kembali."
"Apa itu?"
"Kau tahu jawabannya."
Lusi pergi meninggalkanku tanpa memperdulikan kegalauan hatiku. Aku merebahkan tubuh di atas tempat cream bath. Kutatap langit-langit yang putih polos seperti kain kafan. Air mata berhenti seketika saat aku memikirkan kain kafan, diganti dengan keringat dingin tang tak tentu arah alirannya. Aku merasa takut sekali.
"Kain kafan. Sebagai apa nanti aku kelak jika harus dibalut kain tersebut? Laki-laki atau perempuan?"
Aku merasa sebuah palu besar memukul kepalku, sakit sekali. Aliran darah bagai ombak di pantai, begitu deras dan berbenturan dengan tulang belulang, hingga menimbulkan lemas pada tubuhku.
Kuaalihkan pandanganku pada sebuah poster Britney Spears yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Aku Merasa sesuatu menggeliat dan mengganggu stabilitas jiwaku. Tak biasanya aku seperti ini. Walaupun aku pernah merasakannya, itupun saat aku masih berusia enam belas tahun, dan kini usiaku adalah dua puluh lima. Ya, sembilan tahun lalu.
"Aaaaaarrrgh!", aku berteriak sekuat tenaga hingga seluruh penghuni salon berdatangan menghampiriku.
"Ada apa?", tanya Lusi.
"Sesuatu menggeliat di tubuhku."
Semua terdiam. Keringat dingin terlihat membasahi tubuh mereka. Bahkan, Dion alias Dian jatuh tak sadarkan diri. Namun, mereka tak mempedulikannya. Mereka tetap terfokus ke arahku.
"Kau merasa tenang setelah itu terjadi?", tanya Lusi.
"Ya, tapi aku merasa tegang sekal.", jawabku.
"Kau telah menemukan jawabannya.", ujar Lusi.
"Apa mungkin aku harus kembali menjadi laki-laki?"
"Ya. Itulah duniamu, dunia kita semua yang hilang."
Lusi dan yang lainnya bertolak ke kamarnya masing-masing tanpa ada yang mengomandoi. Tinggal aku dan Dian yang masih berada di ruang praktik salon. Itupun tak bertahan lama. Aku pergi meninggalkan salon dan akan kembali ke rumah. Melatih diri unruk menemukan duniaku yang hilang.
"Mau apa kau kemari?", Tanya Bapak menyala-nyala.
"Aku ingin kembali kepada kodratku, Pak."
"Percuma. Ibumu telah menghadap sang pencipta kau baru kembali. Kau telah mempermalukan ibumu di hadapan-Nya."
"Apa? Ibu..."
"Ya. Puas kau sekarang? Asal kau tahu ibumu mati karena memikirkan kelakuanmu."
"Aku berjanji akan kembali kepada kodratku agar Ibu dan Bapak tidak malu di hadapan tuha."
Bapak tak menjawab. Ia memunggungiku. Mugkin tak sudi melihat aku yang masih memakai pakaian wanita dengan make up melumuri wajahku.