Sebuah refleksi dari desakan gerutu jiwa yang ingin mengaspirasikan suaranya yang tertahan dalam sebuah ide tanpa pintu keluar.
Rabu, 27 Maret 2013
Puisi: Tangis si Agraris
para kuli dan manusia bawah hanya pasrah diiris-iris
oleh penjahat berwajah manis berhati bengis
sampai tak lagi mampu untuk menangis
hingga sampahlah yang akhirnya dikais
Kragilan, Serang, 27 Maret 2011
21.00
Rabu, 05 September 2012
Jumat, 27 April 2012
PUISI: DERAP NISTA
terseok-seok di atas hamparan peluh
kulihat sesosok kupu-kupu
tengah menangis dengan sayap layu
kutanya dia:
wahai kupu-kupu kenapa kau merana
dia menjawab dengan terisak-isak:
aku tak mau lagi menderap-derap dengan nista
aku telah banyak mereguk dosa
dan mungkin aku terlambat menyesali semuanya
kubisikkan berita dari angin yang telah lama tersiar:
wahai kupu-kupu yang mempesona
tak ada kata terlambat untukmu menutup sayap-sayap nistamu
tuhan pun akan menggantinya dengan sayap-sayap suteranya
jika kamu tak lagi menyentuh sarang-sarang laknat
Senin, 23 April 2012
SAJAK PILU SANG PENCARI SAKSI
aku adalah pengagum bangunan yang menjadi saksi sejarah
aku benci pemerintah yang merobohkan bangunan-bangunan tersebut
semakin berkurang saksi masa silam itu, semakin buta mataku menerawang sejarah negeriku
hai penguasa, hargai saksi-saksi bisu itu
jangan terlena akan investasi besar-besaran, sedang saksi negeriku kau tumbangkan satu per satu
Selasa, 14 Februari 2012
MENGUNTIP MESIN CETAK ORIDAB

Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, beberapa tahun kemudian Belanda datang dengan sekutu untuk menjajah kembali Negeri Nusantara. Akibat agresi tersebut, Indonesia mengalami krisis sehingga hubungan antara pemerintah pusat dan daerah menjadi terputus.
Akibat dari krisis tersebut, Keresudenan Banten mecetak uang sendiri yang dinamakan ORIDAB (Oeang Repoblik Indonesia Daerah Banten) yang digagas oleh KH. Tubagus Ahmad Khatib yang saat otu menjadi Residen Banten yang tetap RI.
Mungkin masyarakat sekarang akan berpikir untuk memisahkan diri dari Republik Indonesia ketika memiliki kemampuan membuat mata iang sendiri dan memiliki ekonomi yang maju. Namun, masyarakat BAnten saat itu memiliki jiwa nasionalisme segagah Gunung Krakatau, sehingga tidak terpikir untuk memisahkan diri dari RI.
Sabtu, 04 Februari 2012
PUISI: SEJARAH MAWAR
menyeberangi aliran sungai yang begitu panjang
hingga sampai di tepian sejarahmu
mawar
dengan pisau ini akan kuratakan duri-durimu
sungguh durimu telah melukai daging halusku
wangimu di sejarahmu ta sewangi saat ini
kelopakmu saat ini tak seanggun saat sejarahmu
dengan luka ini kucoba menulis puisi
puisi tanpa makna
puisi yang hanya memancarkan kegundahan auraku
Sabtu, 20 November 2010
IRONI SETANGKAI MAWAR

Saat itu, tujuh hari sebelum Idul Fitri aku mengantarnya membeli pesanan saudaranya. Mataku tak berhenti menata ke arahnya. Sebuah kata yang ingin kuucapkan tak mampu kuhempaskan. Aku lemah ketika melihat matanya. Lidahku tak dapat menari-nari bak penyanyi yang mengalunkan lsan dengan irama musiknya. Angin dan debu seolah mentertawakanku.
Dalam hati, aku harus mengatakannyasekarang juga! Kuikuti kemana langkahnya melaju, seseka kuhibur dia dengan lawakan garingku. Aku senang meihat tawa lebar di wajag kecilnya. Seperti bibir pantai yang bertabrakan dengan ombak samudera. Dan ketika aku akanmegatakannya, lagi-lagi lidahku terpenjara rasa takut, grogi dan malu.
Terlintas sebuah akal di benakku. Aku akan ajak dia ke mal dan menyatakan semuanya di sana. Dan lagi-lagi aku tak sanggup mengatakannya. Akhirnya Bunga memutuskan untuk pulang. Dalam hati kecil aku berkata, “Aduh agagal lagi aku meluapkannya.”
Sebuah angkutan kota yang lumayan sempit dan panas kami naiki, rasa ingin berucap masih menggebu-gebu. Akhirnya kunyatakan semuanya di dalam angkutan kota tersebut.
“Kamu mau jadi kekasihku?”, tanyaku sambil tertawa malu.
Lama ia tak menjawab. Sampai terminal dan berpindah angkutan kota, ia masih tak menjawab. Baru setelah dekat dengan rumahnya Bunga mau menjawabnya.
“Sebenarnya aku juga menyayagimu. Aku mau jadi kekasihmua”,ungkap Bunga padaku dengan tersipu malu.
“Yes!”, kataku mengekspersikan kebahagiaanku.
Akhrnya aku mendapatkan cintanya. Saat Idul Fitri tiba, aku pun menemui keluarganya untuk bersilaturahmi. Sambutannya baik. Aku senang dengan keluarganya.
Setiap sabtu aku punya jadwal pacaran dengan Bunga. Ya, bahagia saat itu tak kan pernah terganti dengan apa pun. Meski ada saja hal yang membuat kami bertengkar kecil, tapi Aku dan bunga tetap merasakan indah setiap bertemu.
Kemana Bunga pergi aku selalu siap mengantarnya, meski harus menumpang angkutan kta setiap aku menemaninya. Untunglah Bunga dapat mengerti keadaanku. Ya, pengertiannya yang membuatku tak mau kehilangan dia.
***
Prahara baru datang ketika bos dari orang tuanya menasihati Ibu Bunga. Ia bilang agar bunga tak diizinkan mengenal cinta dulu sebelum ia lulus kuliah dan bekerja, kalau bisa harus sesama Orang Jawa. Dari situ orang tua Bunga tak merestu hubungan kami.
Suatu pagi, aku tengah menyaksikan televisi. Sebuah pesan masuk ke ponselku. Dari bunga.
Dari : Bunga
Untuk : Gun
“Hubungan kita sampai di sini saja ya”
Dari : Gun
Untuk : Bunga
“kenapa?”
Bunga menjelaskan bahwa orang tuanya sudang melarang dia berhubungan denganku lagi. Seperti disamar petir aku tak bisa menerima kenyataan itu. Aku meminta kepada Bunga untuk tak mengakhiri hubungan kami.
Bungan meneleponku. Ia menangis. Ia berkata bahwa sungguh tak mau meninggalkanku, tapi orang tuanya melarang kami berhubungan. Aku menolak keputusan tersebut. Ini tak adil bagku. Sebuah ironi. Seperti mawar yang memiliki kelopak indah, namun memiliki tangkai yang berduri. Sakit.
Aku memutuskan untuk membuat kesepakatan dengan Bunga. Kami akan tetap menyatukan hati meski tanpa sepengetahuan orang tuanya. Ya, meski Bungasempat ragu dengan kemantapan hatiku, selamanya aku akan mencintainya. Tak seorang pun boleh mengambilnya dariku.
