Senin, 06 Juni 2016

Puisi: Untuk Kamu yang Memilih Lenyap

Untuk kamu yang memilih lenyap
Kudo'akan semoga hatimu masih berbentuk dan mahkotamu tak tergadaikan
Kelak jika aku tak jadi pelindungmu lagi

Untuk kamu yang memilih lenyap
Kudo'akan kamu dijauhkan dari segala hasut dan tipu daya

Untuk kamu yang memilih lenyap
Kudo'akan agar kamu tak kena penyakit pikun atas apa yang kuperjuangkan.

Untuk kamu yang memilih lenyap
Kamu tak akan lenyap sebagai lentera di sudut hatiku yang gelap

Kragilan, Serang, 8 Mei 2016

Puisi: Aku Kalah Melawan Badai

Ku akui aku kalah melawan badai
Sebagai nahkoda aku merasa gagal
Kapal kita karam di tepi pantai

Kau berenang tanpa aba-aba namun hilang tenggelam
Kau lihat pulau itu?
Kau ingat bahwa itu tujuan kita?
Kenapa kau berbalik arah dan menghilang?

Aku sendiri di kapal yang kandas
Entah kau berpaling ke kapal yang lebih mewah
Atau mati dimakan ikan
Tak ada kabar berita

Biar kutunggu kau di kapal ini
Biar ombak menggulung
Aku tak peduli
Aku tetap menunggumu

Aku Kalah Melawan Badai
Kragilan-Serang, 30 April 2016

Puisi: Asih

Asih
Kini Kuberanikan menyebut namamu
Asih
Rinduku sudah tidak terbendung

Pesonamu merenggut logikaku
Kehilanganmu membunuh akal sehatku
Kenapa kau lenyapkan diri dariku
Aku sampai gila mencarimu

Kudatangi rumahmu
Hanya kudapati gembok pintu
Aku tahu kau di dalam situ
Tapi aku juga tahu kau menolak menampakkan wajahmu

Kudatangi lagi di lain hari
Masih kudapati gembok pintu
Malah tetanggamu yang menemui
Menegaskan kau tak mau menemuiku

Dengan cara apa lagi aku harus bicara
Jutaan surat kau bakar dengan amarah
Ribuan salam kau tepis tanpa kata
Aku kau buang

Asih yang kucinta
Namamu selalu kuselipkan dalam keluhku pada tuhan
Memohon api di dadamu lekas dipadamkan
Agar kita bisa bicara perlahan-lahan

Asih
Sikapmu seperti akulah orang yang paling berdosa
Pahit
Getir di jiwa amat tak terkira

Asih
Dunia membujukku melupakanmu, sayang
Tapi mereka tak mengerti
Hatiku hanya memilihmu saja

Asih
Padamkan api di hatimu
Maafkan aku yang berdosa ini
Aku merindukanmu

 Asih
Kragilan-Serang, 21 April 2016

Puisi: Bertamu

Aku bertamu kepada senja
Merendahkan diri lewat sujudku
Memohon engkau yang hilang
Dikembalikan kepadaku

Aku bertamu kepada rembulan
Menadahkan tangan penuh pilu
Memohon engkau yang hilang
Dikembalikan padaku

Aku bertamu kepada sang fajar
Bersimpuh dalam kantukku
Memohon engkau yang hilang
Dikembalikan padaku

Aku bertamu kepada sang surya
Memuja dan meminta pada sang maha Agung
Memohon engkau yang hilang
Dikembalikan padaku

Aku bertamu kepada pengantar mega
Tak henti meminta pada penguasaku
Memohon engkau yang hilang
Dikembalikan padaku


Bertamu
Kragilan-Serang, 20 April 2016

Minggu, 10 April 2016

puisi: Permataku yang Hilang

engkau adalah akhir dari pencarian panjang
setelah lama berjibaku dalam tambang
kutemukan dalam keadaanku yang telah usang

kau bukan permata yang berkilauan
namun diburu jutaan bujangan
entah kharisma apa yang kau punya
hingga pencarianku mantap berakhir padamu saja

tapi sayang kini kau penuh goresan
goresan yang kubuat karena meletakkanmu sembarangan

kini kau menghilang
membawa goresan luka yang tak sempat kuhapuskan
menciptakan pula luka di hatiku yang terus mengerang

permataku
engkau telah hilang
tanpa ucapan selamat tinggal kau pergi dalam diam

permataku
engkau telah hilang
berpindahlah pada tangan yang bajik nan bijak

permataku
engkau telah hilang
kembalilah sayang
biar kuhapus goresan lukamu dengan darah dan peluhku

permataku
engkau telah hilang
kembalilah sayang
jika harus kutukar tangan dan kakiku dengan kamu
niscaya akan kutukar
karena kaulah permataku
kaulah penyambung nyawaku

Kragilan-Serang, 7 April 2016
untuk permata hatiku yang hilang
terinspirasi dari lukisan Zainuddin untuk Hayati (Tenggelamnya Kapal Van der Wijk)

puisi: Biarkan Aku Meracau Sejenak

biarkan aku meracau sejenak
mengingatkanmu akan sebatang tebu

manis
manis sekali
sempat aku merasakannya
tapi kini habis tak bersisa

sesosok hama menyedot kencang manis gulanya
kemudian ditarik dari genggamanku

saat kuambil lagi
tebu itu seakan enggan kembali
saat gulanya kucoba rasakan lagi
habis

hambar
tawar
seperti kamu padaku saat ini

Kragilan-Serang, 29 maret 2016

Minggu, 23 Juni 2013

BIAR AKU MENIKMATI AMARAHKU

cukup
guratan senyumku kini telah pupus 
sepenggal kisah kau ukir di balik debu
menginfeksi seluruh toleransiku
 
aku yang tak pernah bisa mendapatkan emas meski tambang itu milikku
meski usahakan beribu kali dari sudut ke sudut
sementara mereka mendapat bongkahan-bongkahan batu mulia hanya sekali sapu

mengapa harus kau cegah amarahku
jika semua terus menerus berulang mencaik-cabik sisi cerahku
biar aku menikmati amarahku
tanpa rengek dari siapa pun
tidak juga dari rengekmu

Kragilan, Serang, 23 Juni 2013