Detak waktu terus bergerak
Kulihat kamu di ujung sana
Inginku bicara
denganmu
namun terhalang dinding luka
Aku ingin melihal lagi senyummu
dari dekat
membelai pipimu yang berlesung saat tersenyum manja
Aku
rindu kamu
Retakan-retakan hatiku, telah kulupakan
Kini saatnya kamu
izinkan aku menyentuh hatimu lagi
menebus luka yang pernah kubuat.
Aku rindu kamu
izinkan aku memandang senyummu
melihat tawa manjamu,
menatap mungil hidungmu, meski hanya sekejap waktu
Aku rindu kamu
Kragilan, Serang, 13 Mei 2016
Sebuah refleksi dari desakan gerutu jiwa yang ingin mengaspirasikan suaranya yang tertahan dalam sebuah ide tanpa pintu keluar.
Senin, 06 Juni 2016
Puisi: Aku Bercerita Kepada Senja
Aku bercerita kepada senja
cerita tentang kamu yang pergi
Senja menyiratkan warna teduh
mencoba meneduhkan hatiku yang gelisah
Senja seolah mengerti apa yang kurakan
Aku pernah berkata, kamu ibarat senja
teduh dan meneduhkan
Tapi, entah kenapa kamu bagai surya gurun di siang hari
begitu panas
Tapi, di sisi lain kamu menyiratkan salju di puncak everest
begitu dingin
Aku hampir mati diapit keadaan demikian.
Kembalilah teduh, Asih
Mari bicara lagi
Kragilan, Serang, 12 Mei 2016
cerita tentang kamu yang pergi
Senja menyiratkan warna teduh
mencoba meneduhkan hatiku yang gelisah
Senja seolah mengerti apa yang kurakan
Aku pernah berkata, kamu ibarat senja
teduh dan meneduhkan
Tapi, entah kenapa kamu bagai surya gurun di siang hari
begitu panas
Tapi, di sisi lain kamu menyiratkan salju di puncak everest
begitu dingin
Aku hampir mati diapit keadaan demikian.
Kembalilah teduh, Asih
Mari bicara lagi
Kragilan, Serang, 12 Mei 2016
Aku rindu dirindukan olehmu
Aku rindu dimarahi dengan manja olehmu
Aku rindu dicubit olehmu saat mataku celingak celinguk
Aku rindu dipukul olehmu saat aku sedikit jahil padamu
Aku rindu dikhawatirkan olehmu
Aku rindu saat kau merajuk karena lama menunggu
Aku rindu cemburu padamu
Aku rindu menghindari hujan bersamamu
Aku rindu setiap momen kecil bersamamu
Aku rindu dicintai olehmu
Kragilan, Serang, 9 Mei 2016
Aku rindu dimarahi dengan manja olehmu
Aku rindu dicubit olehmu saat mataku celingak celinguk
Aku rindu dipukul olehmu saat aku sedikit jahil padamu
Aku rindu dikhawatirkan olehmu
Aku rindu saat kau merajuk karena lama menunggu
Aku rindu cemburu padamu
Aku rindu menghindari hujan bersamamu
Aku rindu setiap momen kecil bersamamu
Aku rindu dicintai olehmu
Kragilan, Serang, 9 Mei 2016
Puisi: Untuk Kamu yang Memilih Lenyap
Untuk kamu yang memilih lenyap
Kudo'akan semoga hatimu masih berbentuk dan mahkotamu tak tergadaikan
Kelak jika aku tak jadi pelindungmu lagi
Untuk kamu yang memilih lenyap
Kudo'akan kamu dijauhkan dari segala hasut dan tipu daya
Untuk kamu yang memilih lenyap
Kudo'akan agar kamu tak kena penyakit pikun atas apa yang kuperjuangkan.
Untuk kamu yang memilih lenyap
Kamu tak akan lenyap sebagai lentera di sudut hatiku yang gelap
Kragilan, Serang, 8 Mei 2016
Kudo'akan semoga hatimu masih berbentuk dan mahkotamu tak tergadaikan
Kelak jika aku tak jadi pelindungmu lagi
Untuk kamu yang memilih lenyap
Kudo'akan kamu dijauhkan dari segala hasut dan tipu daya
Untuk kamu yang memilih lenyap
Kudo'akan agar kamu tak kena penyakit pikun atas apa yang kuperjuangkan.
Untuk kamu yang memilih lenyap
Kamu tak akan lenyap sebagai lentera di sudut hatiku yang gelap
Kragilan, Serang, 8 Mei 2016
Puisi: Aku Kalah Melawan Badai
Ku akui aku kalah melawan badai
Sebagai nahkoda aku merasa gagal
Kapal kita karam di tepi pantai
Kau berenang tanpa aba-aba namun hilang tenggelam
Sebagai nahkoda aku merasa gagal
Kapal kita karam di tepi pantai
Kau berenang tanpa aba-aba namun hilang tenggelam
Kau lihat pulau itu?
Kau ingat bahwa itu tujuan kita?
Kenapa kau berbalik arah dan menghilang?
Aku sendiri di kapal yang kandas
Entah kau berpaling ke kapal yang lebih mewah
Atau mati dimakan ikan
Tak ada kabar berita
Biar kutunggu kau di kapal ini
Biar ombak menggulung
Aku tak peduli
Aku tetap menunggumu
Aku Kalah Melawan Badai
Kragilan-Serang, 30 April 2016
Kau ingat bahwa itu tujuan kita?
Kenapa kau berbalik arah dan menghilang?
Aku sendiri di kapal yang kandas
Entah kau berpaling ke kapal yang lebih mewah
Atau mati dimakan ikan
Tak ada kabar berita
Biar kutunggu kau di kapal ini
Biar ombak menggulung
Aku tak peduli
Aku tetap menunggumu
Aku Kalah Melawan Badai
Kragilan-Serang, 30 April 2016
Puisi: Asih
Asih
Kini Kuberanikan menyebut namamu
Asih
Rinduku sudah tidak terbendung
Pesonamu merenggut logikaku
Kehilanganmu membunuh akal sehatku
Kenapa kau lenyapkan diri dariku
Aku sampai gila mencarimu
Kudatangi rumahmu
Hanya kudapati gembok pintu
Aku tahu kau di dalam situ
Tapi aku juga tahu kau menolak menampakkan wajahmu
Kudatangi lagi di lain hari
Masih kudapati gembok pintu
Malah tetanggamu yang menemui
Menegaskan kau tak mau menemuiku
Dengan cara apa lagi aku harus bicara
Jutaan surat kau bakar dengan amarah
Ribuan salam kau tepis tanpa kata
Aku kau buang
Asih yang kucinta
Namamu selalu kuselipkan dalam keluhku pada tuhan
Memohon api di dadamu lekas dipadamkan
Agar kita bisa bicara perlahan-lahan
Asih
Sikapmu seperti akulah orang yang paling berdosa
Pahit
Getir di jiwa amat tak terkira
Asih
Dunia membujukku melupakanmu, sayang
Tapi mereka tak mengerti
Hatiku hanya memilihmu saja
Asih
Padamkan api di hatimu
Maafkan aku yang berdosa ini
Aku merindukanmu
Asih
Kragilan-Serang, 21 April 2016
Kini Kuberanikan menyebut namamu
Asih
Rinduku sudah tidak terbendung
Pesonamu merenggut logikaku
Kehilanganmu membunuh akal sehatku
Kenapa kau lenyapkan diri dariku
Aku sampai gila mencarimu
Kudatangi rumahmu
Hanya kudapati gembok pintu
Aku tahu kau di dalam situ
Tapi aku juga tahu kau menolak menampakkan wajahmu
Kudatangi lagi di lain hari
Masih kudapati gembok pintu
Malah tetanggamu yang menemui
Menegaskan kau tak mau menemuiku
Dengan cara apa lagi aku harus bicara
Jutaan surat kau bakar dengan amarah
Ribuan salam kau tepis tanpa kata
Aku kau buang
Asih yang kucinta
Namamu selalu kuselipkan dalam keluhku pada tuhan
Memohon api di dadamu lekas dipadamkan
Agar kita bisa bicara perlahan-lahan
Asih
Sikapmu seperti akulah orang yang paling berdosa
Pahit
Getir di jiwa amat tak terkira
Asih
Dunia membujukku melupakanmu, sayang
Tapi mereka tak mengerti
Hatiku hanya memilihmu saja
Asih
Padamkan api di hatimu
Maafkan aku yang berdosa ini
Aku merindukanmu
Asih
Kragilan-Serang, 21 April 2016
Puisi: Bertamu
Aku bertamu kepada senja
Merendahkan diri lewat sujudku
Memohon engkau yang hilang
Dikembalikan kepadaku
Aku bertamu kepada rembulan
Menadahkan tangan penuh pilu
Memohon engkau yang hilang
Dikembalikan padaku
Aku bertamu kepada sang fajar
Bersimpuh dalam kantukku
Memohon engkau yang hilang
Dikembalikan padaku
Aku bertamu kepada sang surya
Memuja dan meminta pada sang maha Agung
Memohon engkau yang hilang
Dikembalikan padaku
Aku bertamu kepada pengantar mega
Tak henti meminta pada penguasaku
Memohon engkau yang hilang
Dikembalikan padaku
Bertamu
Kragilan-Serang, 20 April 2016
Merendahkan diri lewat sujudku
Memohon engkau yang hilang
Dikembalikan kepadaku
Aku bertamu kepada rembulan
Menadahkan tangan penuh pilu
Memohon engkau yang hilang
Dikembalikan padaku
Aku bertamu kepada sang fajar
Bersimpuh dalam kantukku
Memohon engkau yang hilang
Dikembalikan padaku
Aku bertamu kepada sang surya
Memuja dan meminta pada sang maha Agung
Memohon engkau yang hilang
Dikembalikan padaku
Aku bertamu kepada pengantar mega
Tak henti meminta pada penguasaku
Memohon engkau yang hilang
Dikembalikan padaku
Bertamu
Kragilan-Serang, 20 April 2016
Langganan:
Postingan (Atom)