Sebuah refleksi dari desakan gerutu jiwa yang ingin mengaspirasikan suaranya yang tertahan dalam sebuah ide tanpa pintu keluar.
Sabtu, 11 April 2009
JELANGKUNG
membasahi bumi yang kian menua
kerinduan membelenggu jiwaku
kegelisahan datang mendera
ingin aku jumpa denganmu
menepis rindu yang semakin berkarat
ingin ku belai wajahmu
merasakan halus sutera tubuhmu
datanglah! datanglah!
bagai jelangkung
tanpa ku jemput kau datang
tanpa ku antar kau pulang
karena sungguh ku tak punya uang
untuk ongkos cinta kita sayang
Aa Ghun Al-Bantany
MAAFKAN KAMI BUMI
menymbat rakusnya perut-perut ini
rasa tak pernah puas telah merusak ragamu
namun kami sungguh picik
tak pernah mau berterimakasih
puing demi puing indahmu dipereteli
langit beningmu telah kami butakan
suci airmu tercelar sisa-sisa dahaga nafsu
pperu-perut buncit inilah perusaknya
maafkan kami bumi
jangan kau tumpahkan amarahmu
jangan kau lumatkan jiwa-jiwa pengecut ini
Aa_Ghun Al-Bantany
Sabtu, 04 April 2009
APA SIH TELEVISI ITU?
Secara bahasa televisi berasal dari kata tele yang berarti jauh dan vision yang berarti melihat, jadi kalau digabung jadi melihat jauh atau melihat jarak jauh. Ya, pengertian tersebut 99,9% benar. Karena, dengan televisi kita bisa melihat objek yang jauh seolah-olah ada di hadapan kita. Namu, 0,1% salah. Karena, televisi adalah alat untuk membuat objek yang jauh agar terlihat lebih dekat dengan kita dengan bantuan elektromagnetik, cahaya dan satelit. Jadi mengapa namanya tidah “litoolvisitele” saja? Jawabnya tidak pantas. Selain kepanjangan, litoolvisitel juga tidak enak didengar maupun diucapkan oleh lidah kita. Jadi, namanya tetap televisi.
Secara istilah, televisi berarti media informasi berupa audio visual yang bertujuan untuk memberikan informasi kepada masyarakan secara lebih detail dibandingkan media cetak ataupun radio. Jaringan televise adalah yang paling luas setelah nternet.
Banyak orang menyebut televise sebagai kotak ajaib. Tapi, tetap yang palin ajaib adalah internet dan yang maha ajaib adalah tuhan semesta alam.
Selasa, 24 Maret 2009
cerpen: SAAT PURNAMA BERSEMBUNYI
Purnama tengah bersembunyi di balik awan hitam yang menaburkan hujan untuk memberi basah pada bumi yang semakin hari semakin gersang. Dingin membalut tubuhku, darahku membeku dan nadiku berdenyut tak beraturan.
Aku duduk di deretan kursi biru di depan ruangan yang berbau obat dengan jantung yang berdetak cemas. Di dalam ruangan itu terbaring kakakku melawan kanker darah yang menyerangnya sejak ia berusia 7 tahun dan kini ia telah menyandang usia ke-21. Tim dokter berjuang untuk menyelamatkan kakakku yang akrab ku panggil Bang Rian itu. Ayah dan ibuku duduk cemas di sisi kanan dan kiriku.
"Yah, ibu takut sekali..." ucap ibu dalam tangisnya.
"Tenanglah, Bu! Dokter sedang berjuang untuk menyelamatkan Rian. Berdo'a sajalah, Bu!" Timpal ayah dengan bijak dan berusaha tegar.
Air mata tak pernah berhenti mengalir dari sungai mata ibu yang telah membengkak. Aku dipeluknya erat-erat. Angin mendesir namun tak mampu mengalahkan hangatnya pelukan ibu.
"Bu, sudahlah! Hentikan tangismu! Kasian Bang Rian kalo ibu tak menampakkan ketegaran" ucapku halus. Namun ibu tak mengentikan tangisnya.
Ayah berpindah dari sisi kiriku ke sisi kanan sehingga dan posisi ibu menjadi di tengah-tengah antara aku dan ayah. Beliau memeluk ibu erat-erat, mencoba menenangkan dengan kata-kata halusnya yang penuh dengan nasihat-nasihat bijah dari seorang pemimpin rumah tangga. Mata ayah memang berkaca-kaca, namun tak setetespun air mata mengalir di pipinya.
Pikiranku tertuju kepada seseorang yang tak kunjung datang sejak siang aku beri kabar.lewat pesan singkat. Berkali-kali aku mencoba menghubunginya dengan telepon, namun tak juga mendapat jawaban. Kehadirannya sangan kami harapkan karena dia adalah tonggank semangat Bang Rian. Tiga tahun lebih Bang Rian menjalin hubungan cinta dengan gadis yang akrab ku panggil Mbak Rini itu. Hatiku semakin tak mampu menyimpan kesabaran, akhirnya ku putuskan untuk menjemput Mbak Rini di rumahnya.
"Ayah, Ibu! Andra mau menjemput Mbak Rini ya!" kataku untuk meminta izin kepada ayah dan ibu.
"Silahkan, Nak!" jawab ayahku pertanda ia mengizinkan aku untuk menjemput Mbak Rini.
Langkahku menderap cepat dan memecah kesunyian, menuju tempat dimana mobilku diparkir. Ku pacu mobil sportku di tengah hujan yang tak menampakkan tanda hendak berheti. Kesal, khawatir dan sedih bercampur menjadi satu dalam perasaanku. Aku kesal kepada Mbak Rini yang tak juga datang ke rumah sakit meski telah ku kabari ia lewat pesan singkat ke ponselnya, khawatir dan sedih karena Bang Rian tengah berjuang menantang maut di ruang operasi.
Roda bergulir cepat bagai angis, tak terpikir lagi bahaya yang selalu mengintai di belakkangku. Lampu merah ku terobos, roda yang licin ku paksa encakar aspal engan tepat ddan cepat.
Sampailah aku di istana Mbak Rini. Ku parkir mobilku di depan gerbang tanpa ku kunci lagi karena tergesa-gesa.
“Tok... Tok... Tok...” Ku ketuk pintu berulang kali dan “Kre....k...” Pintu terbuka dan nampak Mbak Rini dalam balutan baju hangat yang melindunginya dari hantaman hawa dingin.
"
"Andra mau menjemput Mbak Rini" jawabku agak kesal.
"kemana?" Tanya Mbak Rini yang terlihat heran dengan nada bicaraku
"Ke rumah sakit. Bukankah Mbah sudah ku kabari lewat SMS?"
"SMS?"
"Ya"
"Kamu lupa? HP Mbak
"Ya ampun! Andra lupa, Mbak" kataku dengan membantingkan telapak tanganku ke kening.
"Ya sudah, ada apa?"
"Bang Rian sedang operasi, Mbak. Mbak kesana sekarang, ya!"
Ekspresi wajah Mbak Rini seperti seorang yang habis dipukul dengan palu gada hingga hatinya remuk tak berbentuk. Air mata pilu pengalir dari mata indah melintasi pipi halusnya dan bermuara di bibir merah mudanya.
"Ayo ke rumah sakit sekarang!" ajak Mbak Rini yang kemudian langsung mengunci pintu tanpa mengganti bajunya.
Aku menuruti ajakan Mbak Rini. Langsung ku tancap gas mobilku, meniti ruas-ruas jalan ibu
Ketika kami sampai di rumah sakit, Mbak rini langsung memeluk ayah dan ibu yang masih diiringi tangisan sendu ibu.
"
"Ya sudah, tidak apa-apa! Sekarang Rian sudah dipindahkan ke ruang ICU. Kau boleh melihat keadaaanya, tapi dokter bilang Rian tidak boleh diajak bicara dulu" jawab ayah bijak.
Mbak Rini berlari ke ruang ICU untuk melihat keadaan Bang Rian, aku mengekor di belakangnya. Dibukanya pintu ruangan tersebut dengan perlahan kemudian ia masuk dengan langkah lemah dan menghampiri Bang Rian Yang terbujur lemas di atas ranjang pasien.
"Ri, maafkan aku! Aku tidak menemanimu saat kau berjuag di ruang operasi" kata Mbak Riniyang tersedu.
Aku pun tak kuasa untuk membendung tangsanku. Aku terlalu sedih untk tidak menangis. Apalagi Bang Rian telah mengukir banyak sejarah denganku, sampai ia berpacaran dengan Mbak Rini pun aku yang mengenalkannya.
"Rian, kamu sadar?!" terdengar suara Mbak Rini yang dibalut nada senang.
Aku melihat Bang Rian telah membuka matanya dan langsung ku panggil ayah dan ibu untuk masuk ke dalam ruang ICU dan melihat keadaan Bang Riang yang telah siuman.
"Rian, kamu sudah sadar" tanya ibu yang telah mampu tersenyum.
Bang Rian menjawab pertanyaan ibu dengan anggukan pelan karena lehernya terbungkus penyangga. Seuntai kalimat terucap dari mulut Bang Riang kepadaku, "Ndra, Kamu teruskan perjuangan kita untuk menembus dapur rekaman, jangan menyerah!" kujawab dengan anggukan semangat dengan diiringi tangis bahagia dan senyum penuh optimisme.
Tatapan Bang Rian beralih ke ayah dan ibu yang berdiri beriringan. Ia berkata pelan, "Ayah, Ibu! Rian akan mewujudkan harapan dari kalian untuk menjadi dokter tapi Rian juga ingin merajut mimpi Rian bersama Anda menuju dapur rekaman" digenggamnya tangan ibu.
"Silahkan, Nak!" jawab ayah dan ibu hampir berbarengan.
Pandangannya bergulir ke arah Mbak Rini yang tak melepaskan belaiannya kepada Bang Rian. Bang Rian membelai pipi kanan Mbak Rini dan mengukir kata nan indah, "Rin, aku akan mencintaimu hingga akhir hayatku!" dijawab oleh mbah rini dengan senyum dan rajutan kata, "Ya, aku juga!" kemudian Bang Riang membelai kiri pipi Mbah Rini dan menyapu air matanya.
Tiba-tiba Bang Rian terpejam dan elektrokardiagraf menampilkan garis lurus, segera kupanggil doketer yang langsung menangani Bang Rian. Dokter menyerah dan melepas infus dari wajah Bang Rian kemudian menutup seluruh tubuhnya dengan kain yang semula menjadi selimut Bang Rian.
"Rian telah pergi!" kata dokter dengan nada lemas
Sontak saja tangis kehilangan mewarnai ruang ICU yang menceka. Purnama yang bersembunyi ternyata menyembunyikan kehidupan fana untuk Bang Rian dan mengantarnya ke kehidupan yang abadi. Hujan yang menderai rupanya bermaksud membasahi tanah kuburan agar mudah di gali untuk persemayaman kakakku yang terakhir. Kata-kata yang terlontar saat ia siuman sementara ternyata pesan terkahirnya untuk aku, ayah, ibu dan Mbak Rini.
"Ternyata belaianmu itu adalah belaian terakhirmu" ucap Mbak Rini yang berurai air mata.
Ruang sempit dan gelap di bawah tanah menghimpit tubuh Bang Rian, mengakhiri petualangannya di dunia fana. Aku hanya bisa berdo’a semoga ia dditerima disisi-Nya. Amin.
SINGKIRKAN SAKITMU
jangan kau alirkan air mata
jangan kau kalah dengan bara sakitmu
jangan biarkan ia menusukmu
singkirkan sakitmu
ukir senyum dalam lukiran wajahmu
karena aki ingin kau kembali
berlari mengejar memainkan masa indahmu
sungguh ku tak kuasa menaha perih
bila ku tatap tubuh kurusmu
yang tampak hanyalah deretan rusuk
tek terisi daging walau setitik
singkirkan sakitmu
bermainlah bersamaku
lupakan deritamu
jangan ukir kesedihan di wajahmu
berdo'a pada tuhan
agar ia menyingkirkan sakit itu dari ragamu
(untuk Kiki, adikku)
ki, cepet sembuh ya!
aa sayang asma kiki. kiki jangan sakit lagi! aa ga tega liat kiki terus sakit-sakitan. kiki tau? biar aa selama ini ketawa, becanda, tapi di dalam hati aa tersimpan tangis kesedihan. a ga kuat liat kiki terus sakit. maafin aa ya kalo aa selama ini marah-marah sama kiki! aa bukannya marah, tapi aa mau mendidik kiki supaya jangan lemah. kiki, aa sayang banget sama kiki, aa ga mau kiki terus sakit. aa tau, aa ga bisa berbuat apa-apa, yang bisa aa berikan cuma do'a. aa janji, aa ga akan marah-marah lagi ma kiki, aa ga akan biarin kiki sedih lagi. aa sayang ma kiki.
ki, cepet sembuh ya sayang!
liat, temen-temen kiki pada lari-larian di luar! apa kiki ga iri? kalo ri cepet sembuh ya sayang! obat dari dokter diminum, ya! jangan telat minum obat! aa tau, aa jarang di rumah. kiki tau kenapa aa jarang di rumah? itu karena aa ga sanggup ngeliat kiki sakit, nafasnya berat, terus batuk.
kenapa sih harus kiki yang kena paru-paru? kenapa ga aa aja?
kiki, cepet sembuh ya sayang!
oleh: aa_ghun
MENUNGGU SANG WAKTU
ALANG-ALANG TELAH RESAH
BEBATUANPUN TELAH PASRAH
MENERIMA TAKDIR YANG TAK BERARAH
LIMA BINTANG TELAH RUNTUH
PURNAMA TAK LAGI UTUH
KUDA-KUDA KERETA PUN TAK LAGI PATUH
REMUK SEMESTA TERGAMBAR DALAM PETAK HATIKU
HAMPARAN DURI MENCABIK JIWAKU
TAK DAPAT TERHEMPAS OLEH SANG BAYU
AKU HANYA MAMPU MENUNGGU SANG WAKTU
MENGUSIR IBLIS DALAM TANGISKU
AKU HANYA MAMPU MENUNGGU SANG WAKTU
MENGHEMPAS DERAKA DALAM JERITKU
PUISI SANG PURNAMA
gelap berubah terang
menghapus kesepian ilalang
termenung ku menanti bintang
ia tak juga datang
kemanakah sang laut pasang
tak datang meski punama terang
tentara malam bersiap perang
aku hanya bisa membelai ilalang
malamku gerasang
sukmaku terasa meregang
bayu malam menghantam tulang
ah, dasar binatang!
ku menangis kau malah tertawa riang
oleh:Aa_Ghun