Minggu, 11 Oktober 2009

cerpen: DANAU PELANGI


Binar kebahagiaan terlukis indah di wajahku saat Diana menancapkan mawarnya di hatiku. Senumnya seolah menjadi penghangat dalam hijan saat bulan januari.

“Tirta, kehadiranmu dalam hidupku ibarat pelangi yang hadir pasca hujan. Jadilah pelangi hatiku!” kata Diana.

“Aku melihat ada kesejukan di matamu yang memberi tetes kesegaran di hatiku yang semula gersang. Aku akan jadi pelangi bagimua, Diana.”

Aku terus menatap mata indah Diana yang memancarkan kesejukan bagiku, lalu kupeluk erat-erat tubuh mungilnya untuk beberapa saat, setelah itu kuremas jemarin tangannya untuk menyalurkan kehangatan cintaku padanya.

Hujan mengendurkan guyurannya, pelangi menampakkan warna-warninya bersamaan dengan titik-titik terakhir dari air langit, namun matahari belum menyusul.

“Ini saatnya aku mengajak dianamenikmati taman ini.” Pikirku, kemudian berkata padadiana,”Sayang, aku ingin megajakmu berkeliling taman ini, menatap indahny bunga-bunga yang bergembira setelah diguyur hujan dan biarlah pelangi menyaksikannya!”

Diana menganggukkan kepalanya seraya menyunggingkan senyun hangatnya. Kugandeng ia tanpa sedetikpun kulepas tangannya, karena aku tahu tak setiap hari aku dapat menggenggam jemarinya.

Kuhentikan langkahku di bawah sebuah pohon cemara. Sebuah danau terhampar indah di hadapan kami berdua. Kutarik diane menuju tepi danau yang menjadi wahana bermain bagi angsa-angsa dan hewan kecil lainnya.

“Tirta, lihatlah keluarga angsa itu! Mereka terlihat sangat bahagia bia berkumpul dan bermain-main di danau saat cuaca yang sejuk ini. Aku pun ingin seperti mereka kelak dan tentunya bersama kau dan anak-anak kita nantinya.”

“Kamu yakin bias menungguku?”

“Yakin sekali.”

Kudekap erat tubuh Diana dengan rasa penuh cinta. Kuhirup udara asmara ini agar dapat mengalir bersama sael-sel darahku dan tetap bersemayam dalam tubuhku.

Kulihat matahari telah nampak dan posisinya empat puluh lima derajat di sebelah barat. Pemandangan yang kurang mengenakan bagiku, karena harus berpisah dengan Diana.

“Ini saatnya aku mengantar kamu pulang, setelah itu aku harus kembali meninggalkan Jakarta.” Kataku

“Ya. Kita memang harus berpisah saat ini, tapi aku ingin hatimu tak pernah berpisah dari hatiku.”

“Pasti.”

Kuarahkan langkah kami menuju istana Diana. Namun, baru sampai gang ku mengantarnya, aku sudah dihentikan olehnya.

“Sampai sini saja kamu mengantarku!” ucap Diana.

“Kenapa?”

“Belum saatnya kamu ke rumahku.”

“Lalu kapan aku bias main ke rumah kamu?”

“Semua ada waktunya. Kamu tunggu saja!”

“Oke, kalau itu mau kamu. Kamu hati-hati di jalan! Aku pulang dulu. Takut kemalaman.”

Kupalingkan tubuhku kea rah berlawanan,kemudian kupacu sepeda motorku untuk jarak yang cukup jauh, menuju Serang, ibukota dari Provinsi Banten.

***

Beberapa hari berselang, aku tak pernah lagi menerima telepon atau SMS lagi darinya. Hal ini membuat hatiku takakruan. Kucoba meneleponnya, namun tak pernah ia angkat, ratusan SMS kukirimkan, namun tak ada jawaban.

“Kenapa Diana gak pernah bales SMS gue, bahkan teleponpun ga pernah diangkat? Apa aku punya salah ya? Tapi apa? Atau dia udah berpindah hati? Tapi kenapa dia bersikap mesra sama gue waktu itu?” pikirku dengan ribuan tanda tanya.

Lelah aku diacuhka,akhirnya aku mencapai titik jenuh dan memutuskan untuk menelepon Diana dengan nomorlain yang ia tidak keahui. Disini aku mendapat jawaban yang sungguh takpernah kuharapkan.

Saat terhubung dengan nomor selular Diana seorang lelaki berbicara padaku bahwa aku tak lagi diperkenankan untuk mengganggu hidup Diana lagi.

“Hey, siapa lo ngelarang gue berhubungan dengan Diana? Gue cowoknya” kataku dengan nada sangat tinggi.

“Tapi gak buat saat ini!” jawabnya.

Jawabannay semakin membuatku geram, kata-kata kasarpun tak sangguplagi terbendung dari bibirku.

“Gue ga percaya kalo ga denger dari mulut Diana sendiri.” Kataku setelah melepaskah cacian padanya.

“Oke!”

Setelah itu,kudengar indah suara Diana, namun tak seramah dan semanja beberapa waktu sebelumnya ketika aku menemuinya.

“Kenapa kamu masih ganggu aku. sekarang aku udah ma Dion. Aku bosan ma kamu yang gak selalu ada saat aku butuh kamu.” Kata Diana dengan kasarnya.

“Tapi, Na..”

“Tuttt… tuttt…” terdengar suara sambungan diputuskan dengan menyakitkan. Melemahkan seluruh isi dalam diriku, jiwa, raga dan semangatku.

Kini kurasakan kehilangan yang amat menyakitkan. Pedih sekali bila kuhirup. Semkin kuingat,maka akan semakin menyakitkan.

***

Dendam menggelayut di pundakku, namun cinta takpernah mau pergi dari hatiku. Aku memutuskan untuk pundah ke Jakarta agar dapat terus memperhatikan Diana,meski dari jauh.

Kubangun sebuah kafe untuk menopang kehidupanku di ibukota dan tak kusangka Diana yang tak mengetahui kafe ini milikku selalu dating setiap akhir pekan. Aku bahagia bias dengan mudah melihat senyum Diana, meski senyum itu untuk Dion.

Sabtu malam ini, kulihat Diana tengah terlibat pembicaraan serius dengan Dion. Rasa penasaran mencengkram jiwaku,maka kuperintahkan pelayan kafeku untuk mendengarkan pembicaraan mereka dengan cara berpura-pura membersihkan meja nomor delapan,meja yang terletak di sebelah meja Diana dan Dion duduk.

Beberapa saat kemudian Fani, pelayan yang kuperintahkan untuk menguping kembali dan mengabarkan sebuah berita yang dapat meremukkan hatiku. Diana hamil dan Dion tak mau bertanggungjawab.

“Fani, kamu panggil Boy dan Roni kemari!”

“Baik, Pak.”

Setelah Boy dan Roni menghadap, kuperintahkan untuk memegangi Dion agar tak kemana-mana. Setelah Dion terkunci, aku menghampirinya dan berkata,”Lo harus bertanggung jawab atas perbuatan lo!”

“Maksud lo?” tanay Dion bak orang kebingungan.

Mendengar pertanyaan Dion aku merasa geram dan melayangkan pukulan keras kea rah pelipisnya, hingga mengucurkan darah.

“Lo harus bertanggung jawab atas kehamilan Diana!” lajutku

“Kok lo tau?”

“Kafe ini puny ague, ajdi gue bias tau apapun yang gue ingin tahu di kafe ini.”

Diana menatapku dengan berlinang air mata. Aku berusaha tak melihat air matanya, karena itu hanya akan menyakitkanku saja.

“Tapi lo jangan perlakukan gue kayak maling gini, dong! Kita bicara secara jantan!”

“Oke. Boy, Ron, lepasin badut pasar ini!”

Setelah Boy dan ronimelepaskan Dion, dia kaur meninggalkan kafe. Tentu saja aku beserta Boy dan Roni mengejarnya dan ketika Dion hendak menyeberang jalan, sebuah truk melindasnya dan mengakhiri kehidupannya.

Diana mendekat dan berkata, “Sekarang siapa yang akan jadi ayah untuk anakku?”

“Aku.” Jawabku.

Diana menatapku dan langsung memelukku.

“Tirta, maafin aku, ya! Aku udah jahat menyia-nyiakan kesetiaan kamu.”

“Gak apa-apa. Aku akan menikahi kamu setelah anak yang kamu kandung lahir dan berusia delapan bulan, karena menikah saat hamil itu haram.”

“Terima kasih, Tirta. Kamu memang bagai air yang selalu memberi kesejukan”

Sementara itu, jenazah Dion telah dievakuasi oleh polisi yang tengah patroli dengan kasus kecerobohan menyebrang yang dilakukan oleh Dion.

***

Tiba saatnya aku menikahi Diana. Meski tak pernah mengenal malam pengantin, aku bahagia dapat hidupbersama bidadari hatiku.

Kukenalkan Dita, anak yang lahir dari rahim Diana dengan danau pelangi yang menyimpan sejarah cintaku bersama ibuya.

_TAMAT_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KOMENTARI SETIAP POSTING YANG SAYA TULIS.....

JANGAN LUPA KOMENTARI SEMUA YANG ADA DI NEGARA KITA....