Sebuah refleksi dari desakan gerutu jiwa yang ingin mengaspirasikan suaranya yang tertahan dalam sebuah ide tanpa pintu keluar.
Rabu, 05 September 2012
Jumat, 27 April 2012
PUISI: DERAP NISTA
langkah-langkah layu menyusur waktu
terseok-seok di atas hamparan peluh
kulihat sesosok kupu-kupu
tengah menangis dengan sayap layu
kutanya dia:
wahai kupu-kupu kenapa kau merana
dia menjawab dengan terisak-isak:
aku tak mau lagi menderap-derap dengan nista
aku telah banyak mereguk dosa
dan mungkin aku terlambat menyesali semuanya
kubisikkan berita dari angin yang telah lama tersiar:
wahai kupu-kupu yang mempesona
tak ada kata terlambat untukmu menutup sayap-sayap nistamu
tuhan pun akan menggantinya dengan sayap-sayap suteranya
jika kamu tak lagi menyentuh sarang-sarang laknat
terseok-seok di atas hamparan peluh
kulihat sesosok kupu-kupu
tengah menangis dengan sayap layu
kutanya dia:
wahai kupu-kupu kenapa kau merana
dia menjawab dengan terisak-isak:
aku tak mau lagi menderap-derap dengan nista
aku telah banyak mereguk dosa
dan mungkin aku terlambat menyesali semuanya
kubisikkan berita dari angin yang telah lama tersiar:
wahai kupu-kupu yang mempesona
tak ada kata terlambat untukmu menutup sayap-sayap nistamu
tuhan pun akan menggantinya dengan sayap-sayap suteranya
jika kamu tak lagi menyentuh sarang-sarang laknat
Senin, 23 April 2012
SAJAK PILU SANG PENCARI SAKSI
aku adalah penikmat sejarah
aku adalah pengagum bangunan yang menjadi saksi sejarah
aku benci pemerintah yang merobohkan bangunan-bangunan tersebut
semakin berkurang saksi masa silam itu, semakin buta mataku menerawang sejarah negeriku
hai penguasa, hargai saksi-saksi bisu itu
jangan terlena akan investasi besar-besaran, sedang saksi negeriku kau tumbangkan satu per satu
aku adalah pengagum bangunan yang menjadi saksi sejarah
aku benci pemerintah yang merobohkan bangunan-bangunan tersebut
semakin berkurang saksi masa silam itu, semakin buta mataku menerawang sejarah negeriku
hai penguasa, hargai saksi-saksi bisu itu
jangan terlena akan investasi besar-besaran, sedang saksi negeriku kau tumbangkan satu per satu
Selasa, 14 Februari 2012
MENGUNTIP MESIN CETAK ORIDAB

Siapa yang tidak tahu Banten? Provinsi hasil pemekaran Jawa Barat ini dulunya merupakan kesultanan yang makmur, namun kekuatannya dihancurkan secara politis oleh Belandan dan menjadi sebuah keresidenan yang merupakan bagian dari jajahan Belanda saat itu (sejarah lengkapnya bisa dibaca di berbagai referensi yang mengulas Banten).
Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, beberapa tahun kemudian Belanda datang dengan sekutu untuk menjajah kembali Negeri Nusantara. Akibat agresi tersebut, Indonesia mengalami krisis sehingga hubungan antara pemerintah pusat dan daerah menjadi terputus.
Akibat dari krisis tersebut, Keresudenan Banten mecetak uang sendiri yang dinamakan ORIDAB (Oeang Repoblik Indonesia Daerah Banten) yang digagas oleh KH. Tubagus Ahmad Khatib yang saat otu menjadi Residen Banten yang tetap RI.
Mungkin masyarakat sekarang akan berpikir untuk memisahkan diri dari Republik Indonesia ketika memiliki kemampuan membuat mata iang sendiri dan memiliki ekonomi yang maju. Namun, masyarakat BAnten saat itu memiliki jiwa nasionalisme segagah Gunung Krakatau, sehingga tidak terpikir untuk memisahkan diri dari RI.
Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, beberapa tahun kemudian Belanda datang dengan sekutu untuk menjajah kembali Negeri Nusantara. Akibat agresi tersebut, Indonesia mengalami krisis sehingga hubungan antara pemerintah pusat dan daerah menjadi terputus.
Akibat dari krisis tersebut, Keresudenan Banten mecetak uang sendiri yang dinamakan ORIDAB (Oeang Repoblik Indonesia Daerah Banten) yang digagas oleh KH. Tubagus Ahmad Khatib yang saat otu menjadi Residen Banten yang tetap RI.
Mungkin masyarakat sekarang akan berpikir untuk memisahkan diri dari Republik Indonesia ketika memiliki kemampuan membuat mata iang sendiri dan memiliki ekonomi yang maju. Namun, masyarakat BAnten saat itu memiliki jiwa nasionalisme segagah Gunung Krakatau, sehingga tidak terpikir untuk memisahkan diri dari RI.
Sabtu, 04 Februari 2012
PUISI: SEJARAH MAWAR
BY: AA GHUN C. AL-BANTANY
bambu-bambu ini akan kurapatkan menjadi sebuah rakit
menyeberangi aliran sungai yang begitu panjang
hingga sampai di tepian sejarahmu
mawar
dengan pisau ini akan kuratakan duri-durimu
sungguh durimu telah melukai daging halusku
wangimu di sejarahmu ta sewangi saat ini
kelopakmu saat ini tak seanggun saat sejarahmu
dengan luka ini kucoba menulis puisi
puisi tanpa makna
puisi yang hanya memancarkan kegundahan auraku
menyeberangi aliran sungai yang begitu panjang
hingga sampai di tepian sejarahmu
mawar
dengan pisau ini akan kuratakan duri-durimu
sungguh durimu telah melukai daging halusku
wangimu di sejarahmu ta sewangi saat ini
kelopakmu saat ini tak seanggun saat sejarahmu
dengan luka ini kucoba menulis puisi
puisi tanpa makna
puisi yang hanya memancarkan kegundahan auraku
Langganan:
Postingan (Atom)